Rabu, 22 April 2009

STUDI TOKOH BAHASA ARAB (IBNU FARIS)

Studi tentang bahasa Arab memang terasa kurang, manakala tidak diikuti dengan studi tentang para ahlinya atau para tokohnya, sebagaimana studi tentang sastra juga memerlukan kajian tentang para tokoh sastra.
Dalam hal ini, tidak sedikit tokoh bahasa Arab yang dapat dijadikan sebagai bahan kajian. Dari Abu al-Aswad al-Dualiy (16 SH. – 69 H.) yang konon disebut sebagai tokoh awal bahasa Arab, hingga Ibrahim Anis sebagai salah seorang tokoh bahasa Arab modern.
Dari sekian tokoh bahasa Arab, penulis tertarik untuk membahas tentang salah seorang tokoh yang selain termasuk dalam kelompok aliran Nahwu Kufah generasi terakhir, juga dapat disebut sebagai tokoh utama dalam bidang Fiqh al-Lughah selain Ibnu Jiniy, yaitu Ibnu Faris (… - 395 H.).
A.Biografi
Nama aslinya adalah Abu al-Husayn Achmad bin Faris bin Zakariyya. Tidak diketahui kapan tahun kelahirannya, sebagaimana tidak diketahui secara pasti daerah tempat kelahirannya. Ada yang mengatakan ia dilahirkan di Qazwin dan tumbuh di Ray. Ada juga yang mengatakan bahwa ia berasal dari Hamadzan lalu berkelana ke Qazwin, kemudian pindah ke Ray untuk mengajar Abu Thalib bin Fakhr al-Dawlah ‘Ali bin Rukn al-Dawlah al-Chasan bin Buwaihi al-Daylamiy.
Ibnu Faris pernah berkelana ke Baghdad untuk mencari hadits, dan menetap di Ray selama sisa hidupnya. Di sini ia memiliki hubungan yang akrab dengan Al-Shachib bin ‘Ubbad yang menjadi muridnya. Tentang gurunya itu Al-Shachib berkata: “Guru kami Abu al-Husayn adalah salah seorang yang bagus karyanya dan aman dari kesalahan”. Dari hubungan ini lahirlah karyanya dalam bidang Fiqh al-Lughah yang diberi nama Al-Shachibiy, dan dalam pendahuluannya Ibnu Faris berkata: “Sesungguhnya kunamai dengan nama ini (Al-Shachibiy), adalah karena ketika aku menulisnya aku menyimpannya di dalam lemari Al-Shachib yang mulia yaitu tempat yang cocok untuk mengumpulkan sesuatu – Allah memanjangkan lapangan ilmu, sastra, kebaikan dan keadilan dengan memanjangkan umurnya – sehingga menjadi bagus dan indah dengan adanya buku tersebut”.
Ibnu Faris tinggal di Ray sampai meninggal pada tahun 395 H., tepatnya di daerah Muhammadiyyah, dikuburkan di sana berhadapan dengan makam hakim ‘Ali bin ‘Abd al-‘Aziz al-Jurjaniy.
B.Sumbangan Pemikirannya
Para ahli sejak dahulu kala sangat memperhatikan tema tentang kemunculan bahasa, hal ini karena bahasa adalah salah satu pendiri hubungan sosial di antara manusia. Yang menarik dari sini adalah bahwa para ahli dan pemikir tidak berselisih pendapat tentang persoalan-persoalan ilmu bahasa seperti halnya mereka berselisih pendapat tentang kemunculan bahasa. Telah banyak pendapat yang muncul mengenai hal ini, salah satu di antaranya adalah aliran Naturalisme Bahasa.
Ibnu Faris adalah termasuk pencetus aliran Naturalisme Bahasa Arab. Ia berpendapat bahwa bahasa Arab itu tawqif atau dengan kata lain bahasa Arab adalah ilham atau wahyu dari Allah SWT. aliran ini menjadikan dalil naqli sebagai dasar pijakannya. Sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah SWT. yang berbunyi:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ اْلأَسْمَآءَ كُلَّهَا ...
Artinya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya … (QS. Al-Baqarah 2: 31)
Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud al-asma’ (nama-nama) di sini adalah nama-nama yang manusia berkenalan dengannya meliputi binatang pada umumnya, bumi, dataran, gunung, dan keledai. Sedangkan Khushayf berpendapat sebagaimana yang diriwayatkannya dari Mujahid bahwa yang diajarkan adalah nama segala sesuatu. ada juga yang berpendapat bahwa yang diajarkan adalah nama-nama malaikat, dan Rabi’ bin Anas adalah salah seorang yang berpendapat sama. Yang lainnya lagi berpendapat bahwa yang diajarkan adalah nama-nama keturunannya (Adam as.) semuanya, dan di antara yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Zayd. Namun, dari sekian penafsiran, Ibnu Faris berpegang pada apa yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas.
Meskipun Ibnu Faris berpendapat bahwa bahasa Arab itu tawqif atau sebagai ilham, bukan berarti bahasa Arab itu datang dalam bentuk satu paket dan dalam waktu yang bersamaan, melainkan Allah mengilhamkan kepada Adam as. sesuai yang dikehendaki-Nya untuk diajarkan dan sesuai pula dengan apa yang diperlukan pada masanya. Kemudian Allah mengajarkan kepada nabi-nabi –setelah Adam as.– yang berasal dari bangsa Arab, seorang demi seorang, apa yang dikehendaki-Nya, sampai akhirnya habis pada Nabi Muhammad SAW., Allah mengajarkannya apa yang belum diberikan kepada seorangpun sebelumnya, sebagai penyempurna atas bahasa sebelumnya.
Sumbangsihnya yang lain dalam bidang bahasa Arab adalah ia merupakan sarjana Arab yang pertama kali mencetuskan istilah Fiqh al-Lughah sebagai bidang baru dalam ilmu bahasa Arab. Karena sebagaimana dalam pendahuluannya untuk bukunya, Al-Shachibiy, Ibnu Faris berkata: “Hadza al-kitab ‘al-Shachibiy’ fi fiqh al-lughah al-‘arabiyyah wa sunan al-‘arab fi kalamiha”. Konon, istilah fiqh al-lughah yang menjadi sub judul dari judul utama buku ini adalah yang pertama kali digunakan khususnya sebagai judul sebuah buku lama.
Dalam bukunya ini pula Ibnu Faris mengungkapkan bahwasanya Ilmu Arab itu memiliki asal dan cabang. Yang dimaksud cabang adalah pengetahuan tentang isim dan sifat, seperti رجل, فرس, طويل, dan قصير. Pengetahuan inilah yang harus dipelajari pertama kali. Sedangkan yang dimaksud asal adalah pembicaraan tentang obyek bahasa, asal-usul dan perkembangannya, serta tentang cara-cara bangsa Arab mengucapkannya. Yang dimaksud dengan ilmu cabang di sini adalah Nahwu dan Sharf, sementara yang dimaksud dengan ilmu asal adalah Fiqh al-Lughah sendiri.
C.Para Guru dan Muridnya
Selain menimba ilmu, terutama Fiqh Syafi’iy, dari ayahnya sendiri yang memang ahli dalam bidang tersebut selain sebagai ahli bahasa dan sastra, Ibnu Faris juga memiliki banyak guru yang lain. Di antaranya adalah Abu Bakr Achmad bin al-Chasan al-Khathib, perawi Tsa’lab. Dari gurunya ini ia mendalami Nahwu Kufah dan kemudian menjadi bagian dari generasi aliran nahwu ini. Guru-guru lainnya yang disebutnya dalam karya-karyanya, antara lain adalah Abu al-Chasan ‘Ali bin Ibrahim bin Salmah al-Qaththan, kepadanya ia belajar Kitab al-‘Ayn karya al-Khalil; Abu al-Chasan ‘Ali bin ‘Ali bin ‘Abd al-‘Aziz, yang darinya Ibnu Faris belajar dua buku karya Abu ‘Ubayd, Gharib al-Chadits dan Mushannaf al-Gharib; Abu ‘Abdillah Achmad bin Thahir al-Munajjim yang sangat dikaguminya. Guru-gurunya yang lain adalah Abu Bakr Muchammad bin Achmad al-Asfihaniy, ‘Ali bin Achmad al-Sawiy dan Abu al-Qasim Sulayman bin Achmad al-Thabraniy.
Sedangkan muridnya selain dua yang telah disebut di atas yaitu Abu Thalib bin Fakhr al-Dawlah ‘Ali bin Rukn al-Dawlah al-Chasan bin Buwaihi al-Daylamiy dan Al-Shachib bin ‘Ubbad, ada Badi’ al-Zaman al-Hamadzaniy, penulis buku terkenal, Maqamat al-Hamadzaniy, sebuah bentuk tulisan prosa baru dalam dunia sastra Arab yang lebih mengandalkan kemampuan dalam mengolah bahasa. Model tulisan ini diduga diilhami dari gurunya, yaitu Ibnu Faris.
D.Karya-karyanya
Salah satu di antara buah karya Ibnu Faris yang paling terkenal adalah karangannya yang berjudul Al-Shachibiy, sebagaimana telah disebutkan di depan. Sedangkan karya-karyanya yang lain ada sekitar 46 karangan, yaitu:
- Abyat al-Istisyhad, - Al-Syiyat wa al-Chula,
- Al-Firaq, - Al-Chammasah al-Muchaddatsah,
- Futya Faqih al-‘Arab, - Gharib I’rab al-Qur'an,
- Ushul al-Fiqh, - Akhlaq al-Nabiy Saw.,
- Al-Afrad, - Al-Itba’ wa al-Muzawajah,
- Al-Amaliy, - Fadl al-Shalah ‘ala al-Nabiy,
- Amtsilah al-Asja’, - Qashash al-Nahar wa Samr al-Layl,
- Al-Intishar li Tsa’lab, - Al-Mujmal fi al-Lughah,
- Al-Nayruz, - Al-Muchashshal fi al-Nachw,
- Al-Lamat, - Machannah al-‘Arib,
- Tamam al-Fashich, - Al-Mudzakkar wa al-Mu`annats,
- Dzamm al-Ghibah, - Dzakha`ir al-Kalimat,
- Al-Tsulatsah, - Muqaddimah fi al-Fara`idl,
- Al-Jawabat, - Muqaddimah fi al-Nachw,
- Al-Chajar, - Tafsiru Asma` al-Nabiy Saw.,
- Chilyat al-Fuqaha`, - Al-Wujuh wa al-Nadha`ir,
- Khudlarah, - Mutakhayyar al-Alfadz,
- Khalq al-Insan, - Dzamm al-Khatha` fi al-Syi’r,
- Darat al-‘Arab, - Jami’u al-Ta`wil fi Tafsir al-Qur'an,
- Sirah al-Nabiy, - Syarch Risalah al-Zuhriy lil ‘Abd al-Malik bin Marwan,
- Al-‘Amm wa al-Khal, - Kifayat al-Muta’allimin fi Ikhtilaf al-Nachwiyyin,
- Maqayis al-Lughah, - Al-Yasykuriyyat, dan
- Ma’khadz al-‘Ilm, - Maqalah “Kalla” wa ma ja`a minha fi Kitab Allah.
Dari sederetan karya-karya tersebut, terlihat bahwa meskipun Ibnu Faris selama ini dikenal sebagai ahli bahasa, namun ternyata ia tidak hanya menyusun buku tentang bahasa, melainkan juga tentang sastra, kamus, biografi, dan juga fiqh. Dari sini tampaklah pula bahwa Ibnu Faris terlibat dalam dunia intelektual pada zamannya secara kuat dan intens. WalLahu a’lam bi al-Shawab.

Senin, 13 April 2009

Bagaimana Selebriti Membaca Al-Qur’an ?

Sebagaimana kita ketahui bahwa saat ini di layar kaca kita sedang marak film-film yang (notabene dianggap) Islami. Mulai dari judulnya yang berkaitan dengan akhlak mahmudah maupun madzmumah, penampilan tokohnya yang memakai jilbab, sampai adegan membaca al-Qur'an, yang kebanyakan memilih membaca surat al-Fatihah atau Yasin, baik yang membaca langsung teks Arabnya maupun yang (hanya bisa) membaca transliterasinya alias bentuk latinnya.
Dari sekian kali saya menonton acara-acara tersebut, akhirnya sayapun bisa menyimpulkan bahwa mayoritas selebriti kita ternyata kurang pandai –kalau tidak boleh dikatakan tidak bisa sama sekali– membaca al-Qur'an. Padahal jelas-jelas mereka itu muslim, bahkan tidak sedikit yang berasal dari keluarga (yang tampak) agamis, ya sebut saja Shireen Sungkar. Terus terang saya termasuk yang lumayan mengakui bagusnya akting Shireen di sinetron Cinta Fitri. Namun, ketika Shireen beradegan membaca al-Qur'an –kalau tidak salah waktu Farel sakit–, betapa saya sangat kecewa karena ternyata diapun sangat kacau bacaan al-Qur'annya. Saya sedih sekali mengetahui hal tersebut karena setahu saya keluarganya selama ini terkesan agamis. Ketika itu sayapun berpikir, “Saya mau kalau misalnya diminta untuk mengajarinya membaca al-Qur'an”. Karena menurut saya sayang sekali artis semuda dan secantik dia belum bisa membaca al-Qur'an dengan benar.
Tentu saja Shireen merupakan salah satu contoh saja, dan mungkin masih dimaklumi karena Cinta Fitri adalah sinetron umum. Lalu bagaimana dengan sinetron-sinetron dan film-film yang secara sekilas terkesan Islami? Ternyata inipun lebih parah lagi. Karena bahkan yang berperan sebagai “ustadz/ustadzah” mayoritas juga seperti itu, tampak sekali bahwa mereka sebenarnya kurang bisa dan tidak terbiasa membaca al-Qur'an.
Segitu miskinnyakah dunia hiburan kita dengan artis yang benar-benar bisa membaca al-Qur'an? minimal yang bisa membedakan panjang pendeknya bacaan aja. Tidakkah ini justru menggambarkan betapa belajar membaca al-Qur'an masih dianggap tidak penting. Kenapa harus dipaksakan artis tersebut yang memerankan peran itu?
Di sini saya menghimbau agar para pasangan artis khususnya, dan orang tua pada umumnya benar-benar memperhatikan pendidikan al-Qur'an putra-putrinya. Apalagi jika ingin anaknya kelak menjadi artis. Apa tidak malu kalau sampai anaknya akhirnya diketahui oleh publik ternyata tidak bisa membaca al-Qur'an? Tentu ini bukan berarti anjuran saya ini hanya khusus jika menginginkan si anak menjadi artis, bukan. Ya intinya, yuk kita benahi bacaan al-Qur'an kita! Dan bagi para produser, kalau hendak membuat film yang ada adegan membaca al-Qur'an, carilah yang benar-benar bisa membaca al-Qur'an. Bisa dicontoh langkah Deddy Mizwar dalam merekrut artisnya. Semoga bisa jadi bahan renungan, dan semoga bermanfaat!Wallahu a'lam bishshawab.

Kamis, 09 April 2009

KONSEPSI WAHDAT AL-SYUHUD DALAM TASAWUF

A.Pendahuluan
Perjalanan seorang sufi menuju Allah seringkali berakhir dengan sebuah pengalaman yang justru sulit diterima oleh akal sehat, bahkan dianggap oleh fuqaha sebagai bertentangan dengan syari’at Islam yang telah mapan, sehingga hal itu berakibat fatal bagi sang sufi sendiri, dia bukan hanya dihukumi kafir tapi juga harus dibunuh di atas tiang gantungan, sebagaimana Al-Hallaj dan lain-lain.
Pengalaman-pengalaman sufi tersebut, sebagaimana terdapat dalam literature-literatur tasawuf, di antaranya adalah ittihad, hulul, wahdat al-syuhud, dan wahdat al-wujud. Dalam makalah ini penulis akan mengkaji satu dari beberapa pengalaman tersebut di atas, yaitu wahdat al-syuhud yang dicetuskan oleh ‘Umar ibn al-Faridh (w. 632 H.).
B.Biografi ‘Umar ibn al-Faridh
‘Umar ibn al-Faridh lahir di Mesir pada abad VI H (576 H./1181 M.), orang tuanya sendiri berasal dari Homat (Tanah Syam) yang kemudian pindah ke Mesir. Sejak kecil al-Faridh mempelajari hadits secara mendalam, karena ia hidup dan dibesarkan di tengah-tengah keluarga zahid, maka tidak mengherankan jika perjalanan hidupnya diakhiri dengan menjadi seorang sufi. Ia menuangkan pengalaman-pengalaman spiritualnya ke dalam bentuk puisi yang umumnya bertemakan cinta Ilahi. Oleh karena karya-karyanya yang selalu bertemakan cinta, ia digelari sebagai “Sulthan al-Asyiqin” atau si Raja Cinta.
Di masa hidupnya, dia menjadi seorang penyair tasawuf yang amat besar. Dia terkenal dengan keistimewaannya menggubah syair percintaan kepada Tuhan. Syair yang bernilai tinggi dalam lapangan kecintaan kepada Tuhan. Dorongan rasa keindahan dalam jiwa (aestetic) yang sejati. Kesaksian terhadap yang Haq yang mutlak dan jujur, timbul dari kebersihan jiwa dan terang-jernihnya penglihatan mata rohani. Seluruh sanubarinya telah ditawan oleh cinta, dia telah karam tenggelam dalam lautan percintaan.
Ibn al-Faridh mengembara di tanah Hijaz selama 15 tahun, untuk merenungi dan meresapi kehidupan di sekeliling Tanah Mekkah. Pengembaraan itu meninggalkan kesan yang sangat besar dalam membentuk jiwanya. Ia meninggal di Mesir pada penggal pertama abad VII H. (632 H./1233 M.) dan makamnya di al-Qarafa tetap terpelihara dengan baik hingga sekarang.
Menurutnya, tasawuf bukanlah sekedar ilmu agama dan bukan pula sekedar amal ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan tidak saja sekedar ma’rifat, tetapi tasawuf merupakan ilmu dan amal serta ma’rifat sekaligus. Pada kesempatan lain ia menegaskan, tasawuf bertolak dari dua dasar, pertama, melalui kasyf dan ilham, dan kedua, melalui amal riyadhah dan mujahadah. Puncak dari dua dasar ini adalah mukasyafah dan musyahadah.
Beribadah, menjauhkan diri dari yang tidak baik, puasa, menghidupkan malam dengan beribadah, wirid terus-menerus, wara’, qana’ah dan zuhud merupakan susunan maqamat yang dilalui oleh Ibn al-Faridh satu-persatu. Ia selalu berusaha untuk melepaskan diri dari pengaruh kehidupan duniawi, usaha ini dirasakannya sebagai kebahagiaan yang tinggi nilainya dalam membina cinta Ilahi, melalui suluk yang berkesinambungan sampai batas kesanggupan terakhir. Melalui keseriusan beribadah, maka baginya puasa bukanlah hanya menahan diri pada siang hari serta beribadah pada malamnya, tetapi puasa baginya adalah cinta yang membawa dirinya menyatu dengan yang dicintainya. Melalui cinta Ilahi, ia merasa sangat dekat dengan Tuhan dan karenanya ia mengatakan, bahwa keagunan kasihnya kepada Tuhan tiada kasih lain yang dapat mengimbanginya.
Melalui latihan dan konsentrasi batin yang teratur, maka cintanya kepada Allah semakin mendalam dan semakin menguasai segenap relung kalbunya sehingga ia dapat merasakan getaran cahaya Tuhan dan akhirnya yang ia rasakan dan ia lihat hanya satu yakni Yang Esa. Situasi mistis yang demikian itulah yang disebut dengan wahdat al-syuhud.
C.Konsepsi Wahdat al-Syuhud
Wahdat al-syuhud merupakan salah satu konsep dalam tasawuf falsafi, sebagaimana konsep ittihad-nya Abu Yazid al-Busthami, konsep hulul-nya Al-Hallaj, atau juga wahdat al-wujud-nya Ibn ‘Arabi. Kajian tentang wahdat al-syuhud oleh para ilmuwan menunjukkan bahwa konsep ini mirip dengan dan mendapat pengaruh besar dari paham wahdat al-wujud, ajaran yang dicetuskan oleh Ibn ‘Arabi.
Konsep ini bermula dari rasa cinta Ibn al-Faridh yang sangat mendalam kepada Tuhan hingga mencapai syauq (rindu-dendam), dan kemudian meningkat menjadi pengalaman uns (), yakni kegilaan dalam asyik-masyuk (intim) dengan Tuhannya. Dalam Risalah al-Qusyairiyah dinukil ungkapan para sufi sebagai berikut :

Pecinta itu syaratnya sampai mabuk (gila) cinta, bila belum sampai seperti itu, cintanya belum benar-benar (belum sempurna).
Jelasnya, mendalamnya cinta rindu terhadap Tuhan menurut ajaran tasawuf para sufi sampai mabuk cinta, sehingga meningkat menjadi wahdat al-syuhud, yakni segala yang mereka pandang tampak wajah Tuhan.
Kesatuan dalam terminology Ibn al-Faridh bukan penyatuan dua wujud, tetapi penyatuan dalam arti yang disaksikan hanya satu, yaitu Wujud Yang Maha Esa. Pluralitas yang tadinya nampak menjadi lenyap sehingga segala sesuatu nampaknya satu kesatuan karena ia telah mampu “menghadirkan” Tuhan dalam dirinya melalui tajalliyat Ilahi.
Menurut pemahaman Musthafa Helmi, tajalli dalam konsep Ibn al-Faridh ada dua segi, yaitu : pertama, tajalli secara zhahir, yakni melihat Yang Esa pada yang aneka; yang kedua, tajalli secara batin, yakni melihat yang aneka pada Yang Esa. Dengan kata lain, barangkali dapat dianalogikan dengan makro dan mikro. Dengan memperhatikan makro kosmos dapat “melihat” mikro kosmos dan sebaliknya. Pengalaman yang demikian dimungkinkan karena fananya yang asyik mencinta ke dalam yang dicinta sehingga ia tenggelam dalam kemanunggalan dan tidak merasakan serta tidak melihat (syuhud) sesuatu selain Allah Yang Maha Tunggal.
Dalam kumpulan syairnya al-Diwan, Ibn al-Faridh melukiskan proses fana secara jelas. Proses awal dari fana adalah melihat Tuhan secara jelas dan pasti dalam setiap benda yang ia lihat. Bahkan dalam setiap pandangannya ke arah mana saja, yang ia lihat hanya Tuhan. Pengalaman yang demikian menyebabkan Ibn al-Faridh merasa satu dengan yang ia cintai. Pada saat dia sadar dari fananya, yang tinggal dalam jiwa dan penghayatan hanyalah sang kekasih, yakni Allah. Inilah yang ia maksud dengan melalui fana ia mengalami kesatuan dengan Allah dan kemudian merasakan cinta yang sejati. Kefanaan bukan keleburan wujud jasmaninya, tetapi kefanaan dari kesadaran dan kemauan serta penanggapan indera keakuannya. Demikian juga dengan penyatuan di dalam Tuhan adalah searti dengan tersingkapnya tabir penghalang sehingga Dzat Yang Mutlak hadir dalam mata hatinya. Situasi yang demikian bukanlah sesuatu yang tidak mungkin karena si penyair (Ibn al-Faridh) sedang dalam kondisi spiritual yang mistis.
Dengan demikian semakin jelas terlihat, bahwa konsep wahdat al-syuhud ini berbeda dari doktrin al-hulul. Sebab, dalam konsep ini penyatuan itu bukan pada substansi manusia yang melebur ke dalam dzat Tuhan, tetapi fananya seluruh yang ada dari kesadaran dan penglihatan sehingga yang nampak ada hanyalah Dzat Yang Esa dan karenanya disebut wahdat al-syuhud bukan wahdat al-wujud. Dari sini nampak bahwa dalam pemahaman Ibn al-Faridh antara bukan wahdat al-wujud. Dari sini nampak bahwa dalam pemahaman Ibn al-Faridh antara wahdat al-syuhud dan wahdat al-wujud itu berbeda. Sementara dalam pemahaman Abdurrahman Wahid (Gus Dur) wahdat al-syuhud merupakan bagian dari wahdat al-wujud. Menurut Ibn al-Faridh, bagi mereka yang sudah menemukan cinta Ilahi yang sejati, wahdat al-syuhud ini dapat dialami dalam keadaan sadar (al-mahwu) dan atau dalam situasi sakr.
D.Kesimpulan
Wahdat al-syuhud merupakan salah satu dari konsep-konsep yang ada dalam tasawuf falsafi. Konsepsi yang dibangun atas dasar rasa cinta yang mendalam kepada Allah ini dicetuskan pertma kali oleh Ibn al-Faridh. Berbeda dengan konsep wahdat al-wujud-nya Ibn ‘Arabi, konsep wahdat al-syuhud berpendapat bahwa kesatuan bukanlah meleburnya manusia dengan Tuhan secara jasmani, melainkan tersingkapnya rahasia wajah Tuhan setelah fananya kesadaran dan kemauan manusia, serta fananya segala penglihatan di sekitarnya, yang nampak hanyalah wajah Tuhan.
E.Daftar Pustaka
HAMKA, Tasauf : Perkembangan dan Pemurniannya, Jakarta : Pustaka Panjimas, 1993
Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1997
Siregar, H. A. Rivay, Tasawuf : Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 2000
Zahri, Mustafa, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Surabaya : PT. Bina Ilmu, 1998

BAHASA ARAB BAIDAH

Bahasa Arab baidah adalah bahasa Arab prasasti yang dialek-dialeknya dipakai oleh kabilah-kabilah yang telah punah sebelum Islam. Nisabon berpendapat bahwa kabilah-kabilah ini sangat dekat masanya dengan Sam bin Nuh. Di antara kelas sosial ini yang terkenal adalah ‘Ad yang tinggal di Ahqaf sebelah selatan Jazirah Arab; Tsamud yang bertempat di al-Hijr di lembah al-Qura antara Hijaz dan Palestina; ‘Ubayl di Yatsrib; Thasm dan Judays di Yamamah; ‘Imalaqah di Makkah, Yatsrib dan sekitarnya, serta di nejd, Bahrain, Palestina dan Irak; Jurhum dan Wabar di Yaman; serta Amim antara Oman dan Ahqaf.
Dalam beberapa literatur berbahasa Arab, disebutkan bahwa bahasa ini tidak sampai kepada kita melainkan hanya melalui prasasti-prasasti, dan banyak dari prasasti ini yang didapatkan pada oase dan padang sahara antara Damaskus dan daerah al-‘Ula (sebelah utara Hijaz). Dari prasasti-prasasti ini tampak bahwa para penutur dialek-dialek itu terisolasi dari orang-orang Arab Nejd dan Hijaz. Juga tampak bahwa dialek-dialek Arab Selatan baidah diwarnai oleh peradaban Aramaik dan menggunakan huruf yang mirip dengan Musnad dan sejarahnya ditulis dengan sejarah Bashrah dan perang antara bangsa Nabasia, Persia dan Romawi, sedangkan dialek-dialek Arab Utara baidah dipengaruhi oleh peradaban Nabasia, kemudian ditulis dengan khat Nabasia atau yang mendekatinya.
Dialek-dialek Arab baidah yang terpenting ada tiga yaitu
1.Dialek Tsamud adalah dialek yang dinisbatkan pada kabilah-kabilah Tsamud yang telah disebutkan dalam al-Qur'an. Sejarah sebagian besar prasasti yang ditulis dengan dialek ini kembali pada abad VI SM. sampai IV M. Kalkulasi prasasti ini mencapai + 2000 buah, yang paling banyak didapatkan di Hijaz, Nejd, Shafa (timur Damaskus) dan Jazirah Sinai, yang ditulis dengan khat Musnad yang bagus dan elegan yang ditulis dari atas ke bawah, dan tidak ditetapkan hanya pada satu masa. Jika diperhatikan, dalam prasasti-prasasti Shafa ditemukan kata-kata yang tidak popular dalam bahasa Arab yang diambil dari bahasa Ibrani dan Suryan.
2.Dialek Shafa adalah dialek yang dinisbatkan pada daerah Shafa (sebelah tenggara Damaskus), prasasti-prasastinya terdapat di daerah-daerah yang berbeda yaitu pada tanah vulkanik yang terdapat antara bukit Shafa dan Gunung Daruz. Jumlah prasasti-prasastinya hingga saat ini mencapai + 2000 buah yang ditulis antara abad III dan VI M. Seorang orientalis Jerman Enno Litmann telah menganalisa sebagian besar rumus-rumusnya dan menemukan huruf-huruf abjadnya, serta memperhatikan bahwa tulisannya dekat dengan tulisan Tsamud, dan dimungkinkan diambil darinya, tetapi terdapat banyak perubahan dan perbedaan. Terkadang dibaca dari kiri ke kanan, dan terkadang dari kanan ke kiri. Kemiripan antara tulisan Tsamud dan Shafa membuat sebagian ahli menetapkan khat kuno yang memperlihatkan pengaruh kedua jenis tulisan itu yang disebut dengan Khat Tsamud-Shafa.
3.Dialek Lihyan adalah dialek yang dinisbatkan pada kabilah-kabilah Lihyan yang tinggal di daerah al-‘Ula (sebelah utara Hijaz). Terdapat dalam banyak prasasti, penyebutan nama-nama para raja Lihyan. Kemungkinan sejarah prasasti-prasasti ini dari pertengahan kedua Millenium I SM., dari oase-oase Didan, al-‘Ula modern, 300 km sebelah tenggara Madinah. Sejarah prasasti-prasasti ini adalah pada masa antara tahun 400 dan 200 SM. Tulisan yang digunakan juga diambil dari tipe tulisan Arab Selatan, Musnad, tetapi lebih bagus, halus, sistemnya lebih kuat dan indah dibandingkan dengan khat Tsamud dan Shafa. Khat ini ditulis melintang dari kanan ke kiri.
Tulisan-tulisan yang ditemukan di wilayah vulkanis Shafa di Hauran serta tulisan-tulisan Dedan dan Lihyan di al-‘Ula (yang disebut proto-bahasa Arab) dari abad VII hingga III SM., juga tulisan-tulisan Tsamud di daerah yang sama, terutama dari al-Hijr dan Tema (abad V SM. hingga abad IV M.), dalam epigrafnya mewakili bentuk alphabet Arab Utara; tapi bahasa tulisan-tulisan itu adalah bahasa Arab Utara yang hanya sedikit berbeda dengan bahasa Arab klasik yang kita kenal. Tulisan graffiti Tsamud merupakan perkembangan dari tulisan Lihyan, sebuah perkembangan lain dari apa yang kita lihat dalam tulisan graffiti Shafa. Tulisan-tulisan Shafa merupakan hasil tangan orang-orang Arab Selatan bagian paling utara yang pernah ditemukan. Tulisan Arab Selatan juga ada yang ditemukan di Ethiopia. Hubungan histories antara tiga bangsa di Utara yang menggunakan tulisan yang sama ini, yaitu bangsa Shafa, Lihyan, dan Tsamud, belum sepenuhnya terungkap. Orang-orang Lihyan, yang disebut sebagai orang Lechieni oleh Pliny, termasuk salah satu bangsa Arab kuno – mungkin bagian dari bangsa Tsamud.
Prasasti-prasasti bahasa Arab baidah menurut cara sampainya kepada kita ini terbagi menjadi dua bagian yaitu
1.Yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Aramaik, yaitu yang tertulis dengan khat yang terbentuk dari khat Musnad.
2.Yang sedikit terpengaruh oleh bahasa Aramaik dan lebih mendekati bahasa Arab baqiyah dari segi kosakata, gaya bahasa dan tata bahasanya, sedangkan daerah tempat ditemukannya prasasti-prasasti ini tidak terlalu jauh dari daerah tempat ditemukannya prasasti-prasasti bagian pertama. Prasasti-prasasti bagian ini tertulis dengan khat Nabasia atau yang terbentuk darinya.
Penelitian-penelitian yang dilakukan terhadap prasasti-prasasti Tsamud, Shafa, dan Lihyan yang telah ditemukan, menunjukkan bahwasanya dialek-dialek ini merupakan dialek-dialek Arab baidah yang paling dekat dengan bahasa Arab fashih, dan bahwasanya tulisan-tulisannya dekat dengan khat Musnad, atau bahkan terbentuk darinya. Sedangkan tulisan Arab Utara yang masih digunakan hingga sekarang, terbentuk dari tulisan Nabasia, sebagaimana yang terdapat pada prasasti Umm al-Jimal I (sekitar pertengahan abad III M.), prasasti Namara (328 M.), Zabd (512 M.), Hiran (568 M.), serta prasasti Umm al-Jimal II (abad VI M.).
Untuk pembuktian-pembuktian awal sebuah tipe bahasa Arab yang memiliki kata sandangt al-, kita harus kembali pada dua kelompok prasasti yang lain, Nabasia dan Palmyra. Keduanya ditulis dalam bahasa Aramaik, tetapi keduanya berasal dari sebuah lingkungan di mana bahasa Arab digunakan. Dalam prasasti-prasasti ini kita banyak menemukan pengaruh dari bahasa Arab yang dipakai ini.
Prasasti-prasasti Nabasia berasal dari kerajaan Nabasia, dengan ibukotanya Petra, yang tumbuh subur hingga 106 M. Sejarah prasasti-prasasti ini adalah dari abad I SM. Sampai abad I M.; yang termuda adalah dari tahun 355/356 M. Meskipun teks-teksnya dalam bentuk tulisan dan bahasa Aramaik, namun bahasa sehari-hari warga kerajaan Nabasia adalah bahasa yang memiliki hubungan dengan bahasa Arab klasik.
Kelompok prasasti Palmyra berasal dari oase-oase Tadmur (Palmyra), yang telah dirusak oleh bangsa Romawi pada tahun 273 M. Sejarah prasasti-prasasti ini adalah dari abad II dan III M. Seperti halnya prasasti-prasasti Nabasia, prasasti-prasasti dari Palmyra ditulis dalam lingua franca wilayah ini, Aramaik, dengan sebuah tipe tulisan Aramaik.
Bagi sejarah bahasa Arab, kedua kelompok prasasti ini kurang mempunyai arti penting, sejak mereka tidak banyak memakai kosakata Arab, dan kebanyakan darinya adalah nama-nama orang.
Prasasti bahasa Arab dengan tulisan lain yang paling terkenal adalah yang berasal dari Namara (120 km sebelah tenggara Damaskus, bertarikh dari 328 M. dan ditemukan pada tahun 1901). Prasasti ini dibuat untuk menghormati Imru’ al-Qays bin ‘Amr I (w. 328 M.), seorang raja dari Dinasti Nashri atau Lakhmi. Prasasti Namara menjadi prasasti yang paling terkenal di kalangan ahli bahasa adalah karena prasasti ini paling komplit. Tulisan yang digunakan dalam prasasti ini merupakan tulisan proto-Arab tertua yang berhasil ditemukan. Tulisan itu merupakan variasi dari huruf orang-orang Nabasia dan memperlihatkan banyak tanda peralihan menuju tulisan Arab Utara yang belakangan, terutama dari sisi penggabungan huruf-huruf.

DAFTAR PUSTAKA
Hitti, Philip K., History of The Arabs, Jakarta: Serambi Ilmu Semesta, 2002
Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah, Ithra’ “Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah” li Kitabay “Fiqh al-Lughah” wa “’Ilm al-Lughah”, Mesir: Dar al-Kutub, 1945
Sarhan, Muhammad, Fiqh al-Lughah, Riyadh: Al-Idarah al-‘Ammah li al-Ma’ahid al-‘Ilmiyyah wa al-Kulliyyat, 1956
Versteegh, Kees, The Arabic Language, …
Ya’qub, Emile Badi’, Fiqh al-Lughah al-‘Arabiyyah wa Khashaishuha, Beirut: Dar al-Tsaqafah al-Islamiyyah, 1982

Jumat, 03 April 2009

THE LOVE LETTER

The Love Letter
Once there was a boy who loved a girl very much. The girl’s father, however, did not like the boy and did not want their love to grow. The boy wanted to write the girl a love letter, but he was sure that the girl’s father would read it first. At last he wrote this letter to the girl.
The great love I said I have for you
Is gone, and I find my dislike for you
Increases every day. When I see you,
I do not even like the way you look;
The one thing I want to do is to
Look the other way. I never wanted to
Marry you. Our last conversation
Was very dull and in no way has
Made me anxious to see you again.
You think only of yourself.
If we were married, I know that I would find
Life very difficult, and I would have no
Pleasure in living with you. I have a heart
To give, but it is not a heart
I want to give to you. No one is more
Demanding or selfish than you, and less
Able to care for me and be of help to me.
I sincerely want you to understand that
I speak the truth. You will do me a favor
If you consider this the end. Do not try
To answer this. Your letters are full of
Things that do not interest me. You have no
True concern for me. Good-bye! Believe me,
I do not care for you. Please do not think
I am still you loving friend.
The girl’s father read the letter. He was pleased, And then gave the letter to his daughter.
The girl read the letter and was very happy. The Boy still loved her!
Do you know why she was pleased? She and the boy had a secret way of writing to each ather. She read only the first line of the letter, and then the third line, and then the fifth line, and so on, to the end of the letter.
Diambil dari buku “The Love Letter”

AHLUL BAIT (Imam al-Baqir)

On the first day of lunar month of Rajab, 57 A.H. the pure Prophetic house was swept with a tidal wave of joy and delight at the birth of Muhammad bin Ali bin Hussein (a.s.).
Unlike his his predecessors from this great house, he was the first Imam who descended from Ali, throughboth his father, Imam Ali al-Sajjad, and his mother, Fatimah, daughter of Imam Hassan (a.s.) who was praised by Imam al-Sadiq (a.s.) as being a faithful woman the like of whom was not found in the family of Hassan. He was a Hashimite whose parents were Hashimites, and an Alawi whose parents were Alawis.
Imam Muhammad al-Baqir lived more than three years under the care of Imam Hussein, his grandfather. he witnessed, whilst a child, the tragedy of Taff during which Imam Hussein, most of his family, and his followers were killed at Karbala. Throughout the years of his father’s Imamate, he was imbued with the essence of the Message and the Imamate. During that period, he imbibed Islamic doctrine and the knowledge of the prophets (a.s.).
He was brought up in the fold of Islam. Imam Ali al-Sajjad, his father, educated him and prepared him in such a way that he would be able to shoulder the responsibility of the office of Imamate in accordance with the divine Will.
So Imam al-Baqir (a.s.) was the zenith, in his lineage, thought, and morals, which qualified him to be the ideological and social authority after his father (a.s.).
The name and nickname of Imam Muhammad al-Baqir (a.s.) were given in advance by his great, great grandfather, the Apostle of Allah (s.a.w.). The reverered companion of the Prophet, Jabir bin Abdullah al-Ansari, is reported to have said.
“The Messenger of Allah (s.a.w.) said to me, You may live long enough to see a son of mine from the loins of Hussein (a.s.), called Muhammad. He will certainly ‘cut through’ the science of religion. Should you see him, convey my greeting to him.”
That is why Muhammad bin Ali (a.s.) was called al-Baqir, which means ‘the man who is deeply knowledgeable and sharply wise, who discover knowledge’s innermost mysteries and essence, and who is well-versed in its arts’, as weighty Arabic dictionaries explain.
The unbiased reader will undoubtedly realize the greatness of the Imam (a.s.), and his high status in the world of Islam, through observing the special attention the Messenger of Allah (s.a.w.) lavished on him. He cherished him, chose his name and nickname, and sent his greetings to him through one of his great disciples, in spite of the time gap that sparated the Prophet (s.a.w.) from his great grandson (a.s.).
IMAM’S CHARACTER
We usually refer, in a definite way, to the fact that the Imams (a.s.) are of the same ideological fabric. Their daily conduct with people and their life-style were the same. But there were differences in practice that can be attributed to the diversity of the social problems, and the different psychological, ideological and political conditions prevailing in their times.
This phenomenon, the similarity between the characters of the Imams, is the exact result of the one ideological basis which defined their concepts, behaviour and activities. And that is a fact explicitly expressed by the Apostle of Allah (a.s.) when he said to his grandson, Hussein (a.s.): “Allah has certainly chosen nine Imams from your loins, O Hussein. All of them are equal in their outstanding merits and position in the sight of Allah.”
AHLUL BAIT
Imam al-Baqir (a.s.)
And as we have done before, we shed light on some aspects of the character of the Imam (a.s.). We will cite some practical examples from the life of Imam Muhammad al-Baqir (a.s.) that we may ponder over it, in order to find our way on the road trodden by those great men who raised the standard of guidance high on earth.
Firstly– his Spirituality:
If Ahlul-Bait suffered from the different tribulations poured on them by deviant rulers, such trials were targeted at their faith first and foremost. They were physically exterminated because of the mission they carried. Their foes wanted to obliterate their thought, jurisprudence and all trace of them. Even their tombs were not spared, many attempts being made to raze them to the ground.
It is no exaggeration to say that what information we now possess about Ahlul-Bait (a.s.) is only scanty fragments that reflect a little of their glory.
They were persecuted. Their followers were also persecuted for hundreds of years after them. The cultural institutions dedicated to preserve their legacy, were dealt hard blows throughout both our past and present history.
As a result, the researcher will find difficulty in forming an opinion about any single Imam. The books that deal with their lives are scarce, but the scattered narratives and traditions that exist are a reliable basis for a vivid picture, though not complete, of their lives.
Imam Muhammad al-Baqir (a.s.) was so close to Allah, the Exalted, that the hereafter and the meeting of Allah were his only concern. He was totally obsessed with them. One day he reportedly said to Jabir bin Yazid al-Ju’fi, may Allah be pleased with him, “By Allah! O Jabir, I am sad and worried”.
May I be your ransom, Jabir said. What is this sadness and worry for?
O Jabir, said the Imam (a.s.), “It is the sadness and worry of the hereafter. O Jabir, whoever’s heart the essence of true faith enters into, will be busy away from this life and its ornamentation. The ornamentation of this life is only a sport and a pastime. The life to come (the hereafter) is the true life. The faithful should never really on this earthly life. Rest assured that the seekers of this life are unaware, conceited and ignorant. But the seekers of the hereafter are active, ascetic, well-versed in knowledge and jurisprudence, deep in thought over their life. They never tire of praising Allah.
Rest assured, Jabir, that the pious people are rich. A little from this world satisfies them. Their burden is light. If you forget to do good they will remind you of it, and if do good, they will help you in it. They overcome their pleasures and lusts, and pushed obedience to their Lord before them. They looked at the straight path and sought the love of the beloved of Allah. They loved, followed them, and walked in their footsteps…”
Such high spirituality can not be found in anyone except the prophets and their trustees. The Imam translated his relationship with Allah into guidelines for Jabir, his disciple, and those who would his example.
Secondly– Social Aspects of his Character:
His brothers in Islam who called on him never felt bored his presence. He loved to receive people and would say, “You can know the depth of the love your brother feels in his heart for you by examining the love you have for him in your own heart”. Never was he heard saying, “Beggar, may Allah bless you!” or “Take this, O beggar!”. He would say, “Call them by the best of their names”.
One may not appreciate the Imam’s generosity in the way it should be appreciated without knowing that the Imam (a.s.) was not well-off. He was as his son Imam al-Sadiq (a.s.) described him, “My father had the least amount of money at his disposal compared with the rest of the members of his family, but his financial burden was the heaviest.”
Though his financial resources were limited he shouldered his social responsibility adequately. He helped the people and alleviated their pains which were caused by the injustices done to them by the rulers at the time. The followers of Ahlul-Bait, as we know, bore the brunt of that discriminatory policy.
How great is the slogan which he raised, quoting his great, great grandfather, the Apostle of Allah (s.a.w.), “Three acts are the hardest: Consoling one’s brothers with one’s money, being fair with people, especially with matters related to one’s interests, and praising Allah in both times of prosperity and adversity.”
He took pains to instruct his followers in the norms of good conduct. Following are some of his concepts in this respect:
“Three of the noblest deeds of this life and the hereafter are: Forgiving one who has wronged you, keeping your relations with one who has cut them off, and showing tolerance towards one who has shown ignorance towards you”.
“Any servant of Allah who refrains from helping his Muslim brother and trying to meet his needs, whether they are met or not, will be afflicted with trying to secure things for which he will bring Allah’s wrath upon himself instead of His rewards. And any servant of Allah who avoids spending money on things which earn him the pleasure of Allah, will be afflicted with giving out money manifolds on what brings the wrath of Allah on himself”.
Once a Christian reviled him brazenly, and called him “a cow”!
“I am Baqir”, said the Imam.
“You are the son of the cook”, said the man.
““You are the son of the cook”, said the man.
“Yes, that is her profession”, replied the Imam.
“You are the son of the black woman, the Negress, and the foul-mouthed”, persisted the Christian.
“If you have said the truth, may Allah forgive her, but if you have lied, may Allah forgive you”, said the Imam.
At that point, the Christian realized the greatness of the man he was insulting. He immediately regretted what he had said and embraced Islam in the presence of the Imam.
Thirdly– his Thought:
Due to their special education and upbringing, all the Imams achieved the highest levels in all fields. In thought and in practice, they were the true bearers of the Message to which they remained faithful.
Even though their thought was in fact inherited from the Prophet (s.a.w.), and his son-in-law Ali bin Abi Talib (a.s.), the trustee of the Apostle of Allah (s.a.w.), their success in settling the problems they faced and the people faced, and the wisdom they showed in dealing with the different event during their lives, reflect a reservoir of inexhaustible knowledge and skill.
A number of traditions refer to this fact. Practically, the Imams found no difficulty whatsoever in answering any question put to them. Nor were they ever confronted with a problem which remained unresolved, whether it was ideological, religious or scientific. Throughout their lives the Imams never erred in explaining a concept or an opinion.
As for Imam Muhammad al-Baqir (a.s.), his deep thought, and his superiority over other scholars at that time in the fields of jurisprudence, Qur’anic exegesis, traditions, and the other Islamic sciences, made his contemporaries hold him in high esteem and admiration.
Abdullah bin Umar bin al-Khattab was asked about something, but he failed to offer an answer. Instead he adviced the questioner to visit Imam al-Baqir (a.s.), “Go to that youth and put your question to him, and tell me afterwards what is his answer”, he said.. When the man asked the Imam (a.s.) about it, he answered him directly and immediately. The man then returned to Abdullah with the answer. “That came from a household well-versed in knowledge”, commented Abdullah.
Abdullah bin Ata’ al-Makki is reported to have said, “Never have I seen scholars so limited in knowledge in the presence of a scholar other than in the presence of Abu-Ja’far Muhammad bin Ali bin Hussein (a.s.). For all the respect and veneration al-Hakam bin Utaybah commanded among the people, in the presence of Abu-Ja’far he was like a boy in the presence of his teacher”.
Following are some of his answers to questions he was asked. We hope they will helps us to shape our minds and reform our communities.
1. Amru bin Ubayd, a leader and intellectual of al-Mu’tazilah (literally schismatics), aschool of thought, called on Muhammad bin Ali al-Baqir to test him with a question. “May I be your ransom”, said he, “What is meant by this verse: ‘Or see not those who disbelieve that the heavens and the earth were one piece, before We clove them asunder, …’ Holy Qur’an (21:30) ‘What is this one piece and what is meant by clove them asunder?
“The heavens were one solid mass which rendered no rain”, replied the Imam (a.s.). “And the earth was a solid mass which produced no plants. Allah tore asunder the heavens with the rain, and the earth with the plants”.
Amru kept silent and did not comment.
Once again he returned, asking this question, “May I be your ransom. Tell me what is meant by this verse: “…and those whom My wrath descends do perish indeed!” Holy Qur’an (20:81) What is that wrath?”
The Imam answered, “O Amru, the wrath is when a creature gets angry when something provokes him, changing him from one condition to another, and whoever claims that wrath and satisfaction change Allah, and that He regains His equanimity, he is describing Allah with the qualities of that creature.”
2. Abu Yousef al-Ansari said, “I asked Abu Hanifah, ‘Have you ever seen Muhammad bin Ali al-Baqir (a.s.)?’
‘Yes’, replied he. And I asked him one day, ‘Does Allah ask for the sins of His servants?’ and he asked, ‘Do His servants disobey Him forcefully?’ Abu Hanifah said after a moment’s pause, ‘I have not found a more refuting reply than this one’”.
It is necessary to remind the reader that Abu Hanifah was the leader of one of the Islamic schools of thought. Abu Hanifah had every right to describe the Imam’s reply as “refuting”. He knew that the Imam (a.s.) had a decisively definite and clear-cut opinion on the conception of “Fatalism and free will” which had split Muslim intellectuals and scholars for a long time. The Imam (a.s.), to the admiration and astonishment of Abu Hanifah, defined it in a few words.
3. Imam al-Baqir (a.s.) is reported to have said, “Beware of sloth and boredom, for they are the key to every evil. Should you get lazy you will not do what you are obliged to do. And should you get bored you will not have the perseverance to do what you are obliged to do”.
And he said, “There is nothing more lovable to Allah than to be implored. Nothing other than supplication wards off fate. The greatest punishable evil act is injustice. Sufficient flaw is that one sees in other people what one is blind to see in oneself, enjoins them to do what one cannot bring oneself to do, and annoys one’s visitor with what does not concern one”.
4. Imam al-Baqir (a.s.) explains the meaning if Shi’ite in the following words, “Our Shi’ites are simply those who guard themselves against evil and obey Allah. They are known for their modesty, submission to Allah, giving back trusts to their owners, much remembering of Allah, fasting, praying, being kind to their parents, helping their poor neighbours, the destitute, debtors and orphans among them, truthful in speaking, reciting the Qur’an, and avoiding evil talk. They are those whom their people put their trust in”.
5. One of his most excellent advice was given to the famous Umayyad ruler, Umar bin Abdul Aziz. It reads, “I recommend you to take the Muslim youths for sons, the middle-aged for brothers, and the old ones for fathers. So, have mercy on your son, help your brother, and be kind to your father. Should you do a favour, go on doing it”.
The Imam’s reputation as a religious authority was so wide-spread that from far-flung areas within the Muslim homeland, people flocked to see him. Top intellectuals and leaders of the Islamic schools of thought came to see him. We have already quoted some of his arguments with a few of them, such as Ibn al-Munkadir the sufi leader; Amru bin Ubayd, a leader of the Mu’tazilah, Abu Hanifah, a leader of an Islamic school of thought; Qutadah, the jurisprudent and Qur’anic exegetist of Basrah, and others, whom we cannot quote due to shortage of space, but among them are the following: Al-Hassan al-Basri, Tawoos al-Yamani, Nafi’ bin al-Azraq, and Abdullah bin Nafi’.
But the thought of Imam al-Baqir (a.s.) was by no means restricted to the arguments. It was broad, open, covering a wide range of subjects related to this life and the hereafter. He lead the school of thought of Ahlul-Bait immediately the death of his father. He took wide strides in pushing it along towards perfection.
The Imam was assassinated by poison in the year 114 A.H. [732 A.D.], at the age of fifty seven years.
He departed to meet his Lord patient and seeking Allah’s pleasure and reward.
Peace be upon him on the day he was born, on the day he died, and on the day when he shall be raised to life.

Taken from: Ahlul Bait (7) Imam al-Baqir

BAHASA DAN MASYARAKAT

BAHASA DAN MASYARAKAT
A.Pendahuluan
“Bahasa merupakan cermin suatu bangsa”, agaknya ungkapan tersebut tidaklah berlebihan jika bahasa dikatakan cerminan suatu bangsa, karena identitas dan letak geografis akan berpengaruh pada suatu bangsa (baca: masyarakat) dan sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa merupakan alat komunikasi antar individu dan masyarakat. Jadi, yang paling dekat dengan kehidupan bermasyarakat yang bisa memengaruhi dan dipengaruhi adalah bahasa.
Bahasa tidak bersifat statis tetapi dinamis, kedinamisan bahasa disebabkan oleh kedinamisan masyarakat pemakai bahasa. Masyarakat bersifat dinamis dalam arti setiap hari ada perubahan. Perubahan itu tampak dari sikap dan hal-hal yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat itu sendiri. Bahasa sebagai tingkah laku verbal merupakan salah satu aspek dari keseluruhan tingkah laku manusia yang sedang melaksanakan komunikasi, identitas seseorang sering kita kenal dari bahasanya.
B.Bahasa dan Tutur
Ferdinand de Saussure (1916) membedakan antara yang disebut langage, langue, dan parole. Ketiga istilah yang berasal dari bahasa Prancis itu, dalam bahasa Indonesia secara tidak cermat, lazim dipadankan dengan satu istilah, yaitu bahasa. Padahal ketiganya memunyai pengertian yang sangat berbeda, meskipun ketiganya memang sama-sama bersangkutan dengan bahasa. Dalam bahasa Prancis istilah langage digunakan untuk menyebut bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang digunakan manusia untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal di antara sesamanya. Langage bersifat abstrak. Barangkali istilah langage dapat dipadankan dengan kata bahasa seperti terdapat dalam kalimat “Manusia memunyai bahasa, binatang tidak”. Istilah kedua dari istilah Ferdinand de Saussure yakni langue dimaksudkan sebagai sebuah sistem lambing bunyi yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan berinteraksi sesamanya, yang barangkali dapat dipadankan dengan kata bahasa dalam kalimat “Nita belajar bahasa Jepang, sedangkan Dika belajar bahasa Inggris”. Sama dengan langage yang bersifat abstrak, langue juga bersifat abstrak, sebab baik langue maupun langage adalah suatu sistem pola, keteraturan, atau kaidah yang ada atau dimiliki manusia tetapi tidak nyata-nyata digunakan.
Berbeda dengan langage dan langue yang bersifat abstrak, maka istilah yang ketiga yaitu parole bersifat konkret, karena parole itu merupakan pelaksanaan dari langue dalam bentuk ujaran atau tuturan yang dilakukan oleh para anggota masyarakat dalam berinteraksi atau berkomunikasi sesamanya. Parole di sini barangkali dapat dipadankan dengan kata bahasa dalam kalimat “Kalau beliau berbicara bahasanya penuh dengan kata daripada dan akhiran ken”.
Setiap orang secara konkret memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam berbahasa (berbicara atau menulis). Kekhasan ini dapat mengenai volume suara, pilihan kata, penataan sintaksis dan penggunaan unsur-unsur bahasa lainnya. Itulah sebabnya, kalau kita akrab dengan seseorang, kita akan dapat mengenali orang tersebut hanya dengan mendengar suaranya saja (orangnya tidak nampak), atau hanya dengan membaca tulisannya saja (namanya tidak disebutkan dalam tulisan itu). Ciri khas bahasa seseorang disebut dengan istilah idiolek. Jadi, kalau ada 1000 orang, maka akan ada 1000 idiolek.
Dari pembicaraan di atas, secara linguistik dapat disimpulkan bahwa setiap bahasa sebagai langue dapat terdiri dari sejumlah dialek, dan setiap dialek terdiri dari sejumlah idiolek. Namun perlu juga dicatat bahwa dua buah dialek yang secara linguistik adalah sebuah bahasa, karena anggota dari kedua dialek itu bisa saling mengerti; tetapi secara politis bisa disebut sebagai dua buah bahasa yang berbeda. Contohnya, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia.
C.Verbal Repertoire
Kemampuan komunikatif seseorang ternyata juga bervariasi, setidaknya menguasai satu bahasa ibu dengan pelbagai variasinya atau ragamnya; dan yang lain mungkin menguasai, selain bahasa ibu, juga sebuah bahasa lain atau lebih, yang diperoleh sebagai hasil pendidikan atau pergaulannya dengan penutur bahasa di luar lingkungannya. Rata-rata seorang Indonesia yang pernah duduk di bangku sekolah menguasai bahasa ibunya dan bahasa Indonesia. Selain itu mungkin menguasai satu bahasa daerah lain atau lebih, dan juga bahasa asing, bahasa Inggris, atau bahasa lainnya, apabila mereka telah memasuki pendidikan menengah atau pendidikan tinggi. Semua bahasa beserta ragam-ragamnya yang dimiliki atau dikuasai seorang penutur ini biasa disebut dengan istilah repertoire bahasa atau verbal repertoire dari orang itu.
D.Masyarakat Tutur
Kalau suatu kelompok orang atau suatu masyarakat memunyai verbal repertoire yang relatif sama serta mereka memunyai penilaian yang sama terhadap norma-norma pemakaian bahasa yang digunakan di dalam masyarakat itu, maka dapat dikatakan bahwa kelompok orang itu atau masyarakat itu adalah sebuah masyarakat tutur (Ing: Speech Community). Jadi, masyarakat tutur bukanlah hanya sekelompok orang yang menggunakan bahasa yang sama, melainkan kelompok orang yang memunyai norma yang sama dalam menggunakan bentuk-bentuk bahasa. Satu hal lagi yang perlu dicatat, untuk dapat disebut satu masyarakat tutur adalah adanya perasaan di antara para penuturnya, bahwa mereka merasa menggunakan tutur yang sama.
E.Bahasa dan Tingkatan Sosial Masyarakat
Pokok pembicaraan dalam sosiolinguistik adalah hubungan antara bahasa dengan penggunaannya di dalam masyarakat. Hubungan yang bagaimanakah yang terdapat di antara bahasa dan masyarakat itu? Jawabnya adalah adanya hubungan antara bentuk-bentuk bahasa tertentu, yang disebut variasi, ragam atau dialek dengan penggunaannya untuk fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat. Misalnya, untuk kegiatan pendidikan kita menggunakan ragam baku, untuk kegiatan sehari-hari di rumah kita menggunakan ragam tak baku, dan untuk kegiatan mencipta karya seni, kita menggunakan ragam sastra. Lalu, adakah hubungan antara bahasa dengan tingkatan sosial di dalam masyarakat? Untuk menjawabnya, harus dilihat dulu maksud dari tingkatan sosial di dalam masyarakat itu. Adanya tingkatan sosial di dalam masyarakat dapat dilihat dari dua segi: pertama, dari segi kebangsawanan, kalau ada; dan kedua, dari segi kedudukan sosial yang ditandai dengan tingkatan pendidikan dan keadaan perekonomian yang dimiliki.
Kuntjaraningrat (1967:245) membagi masyarakat Jawa atas empat tingkat, yaitu (1) wong cilik, (2) wong sudagar, (3) priyayi, dan (4) ndara; sedangkan Clifford Geertz membagi masyarakat Jawa menjadi tiga tingkat, yaitu (1) priyayi, (2) bukan priyayi tetapi berpendidikan dan bertempat tinggal di kota, dan (3) petani dan orang kota yang tidak berpendidikan. Berdasarkan tingkat-tingkat itu, maka dalam masyarakat Jawa terdapat berbagai variasi bahasa yang digunakan sesuai dengan tingkat sosialnya.
F.Penutup
Bahasa bisa hidup dan berkembang; bahasa bisa juga mati dan sirna sama sekali. Hidup dan berkembangnya suatu bahasa tergantung pada masyarakat pemakainya. Tanpa adanya masyarakat manusia yang mempergunakannya lagi, maka bahasa itu sekedar merupakan sistem perlambangan yang mati. Jadi, perkembangan suatu bahasa tidak dapat lepas dari perkembangan masyarakat yang mempergunakan bahasa itu. Akan tetapi bukan berarti bahasa tidak memengaruhi masyarakat, karena memang antara bahasa dan masyarakat ada saling keterpengaruhan.

Sumber: Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka Cipta, 2004

Rabu, 01 April 2009

Apakah Al-Qur'an tidak berurutan ?

Orang-orang Kristen sering bertanya kepada umat Islam dalam berbagai kesempatan, baik orang per orang, dalam diskusi terbuka, di Internet maupun dalam buku-buku yang menghujat Islam.

Dalam diskusi kami di Arimatea Pusat di Bambu Apus dengan orang-orang sekolah Theologi Kristen, mereka bertanya mengapa al-Qur’an susunannya tidak beraturan, atau dalam bentuk pertanyaan lain yang lebih halus :

Kami ingin mengetahui, berdasarkan apakah al-Qur’an disusun? karena kalau kami amati, surat pertama dalam al-Qur’an adalah surat al-fatihah yang termasuk surat pendek, kemudian disusul surat al-Baqarah yang cukup panjang, tetapi surat terakhir justru surat yang masuk dalam katagori surat yang sangat pendek. Jadi menurut pendapat kami al-Qur’an tidaklah disusun berdasarkan panjang pendeknya surat, dan menurut pengamatan kami, al-Qur’an tidak pula disusun berdasarkan urutan turunnya surat, karena surat al-Fatihah bukanlah surat yang pertama kali turun tetapi ditempatkan pada urutan pertama, dan surat yang pertama kali turun justru ditempatkan pada akhir-akhir al-Qur’an. Mohon dijelaskan atas dasar apakah penyusunan al-Qur’an itu ?

Pertanyaan seperti itu memang sangat wajar dilontarkan oleh orang-orang Kristen, karena memang kitab mereka disusun berurutan sama persis dengan kitab sejarah yang disusun berdasarkan urutan waktu.

Kalau kita tengok kitab orang Kristen, pasal pertama adalah tentang silsilah Yesus, kemudian disusul tentang kelahiran Yesus, kemudian pembaptisan Yesus, dakwah Yesus, pengejaran Yesus dan akhirnya tentang terangkatnya Yesus ke langit, hampir sama dengan kitab otobiographi orang-orang terkenal yang disusun sejak lahirnya hingga masa tuanya (matinya).

Tetapi tidak sama dengan al-Qur’an, karena al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, al-Qur’an adalah kitab petunjuk hidup, al-Qur’an adalah kitab yang berisi hukum-hukum, pelajaran-pelajaran dan lain sebagainya.

Marilah kita kaji rahasia dibalik susunan ayat-ayat al-Qur’an yang menurut orang-orang Orientalis dan Kristen tidak beraturan.

SUSUNANNYA DARI ALLAH SWT
Bahwa susunan ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Qur’an seperti yang sekarang ini ada adalah susunan yang dibuat oleh nabi Muhammad saw yang mendapat mandat dan pengawasan dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Bukan atas kesepakatan para sahabat atau umat Islam.

Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. QS.75:17

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. QS. 75:18

Bila Malaikat jibril membacakan wahyu dari Allah SWT maka nabi Muhammad diperintah mendengarkannya dan bila Malaikat Jibril telah selesai membacakannya maka nabi Muhammad saw diperintah untuk mengikuti bacaan sesuai yang dibacakan malaikat Jibril .

Malaikat Jibril setiap tahun pada bulan Ramadhan datang menemui nabi untuk menjaga bacaan dan susunan al-Qur’an :
Fatimah berkata :’Nabi Muhammad memberitahukan kepadaku secara rahasia, Malaikat Jibril hadir membacakan al-Qur’an padaku dan saya membacakannya sekali setahun, hanya tahun ini ia membacakan seluruh isi kandungan al-Qur’an selama dua kali. Saya tidak berpikir lain kecuali, rasanya, masa kematian sudah semakin dekat.’ HR. Bukhari bab Fada’il al-Qur’an

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa nabi Muhammad saw berjumpa dengan malaikat Jibril setiap malam selama bulan Ramadhan hingga akhir bulan, masing-masing membaca al-Qur’an silih berganti. HR. Bukhari bab shaum

Hadith - hadith diatas dan beberapa hadith yang lainnya memberikan gambaran bahwa sistem bacaan antara nabi Muhammad saw dengan malaikat Jibril adalah menggunakan sistem Mu’arada yaitu malaikat Jibril membaca satu kali dan nabi Muhammad saw mendengarkannya begitu pula sebaliknya.

Dengan sistem tersebut yang secara periodik dilakukan setiap bulan Ramadhan, memberikan jaminan bahwa susunan al-Qur’an yang sampai kepada umat Islam di seluruh dunia hingga saat ini adalah susunan yang sesuai dengan susunan yang Allah SWT kehendaki.


SUSUNANNYA UNIK, ITULAH KETERATURANNYA.
Kata orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen, al-Qur’an susunannya tidak beraturan, tidak berdasarkan urutan waktu turunnya, tidak berdasarkan panjang pendeknya surat, tidak berdasarkan tempat turunnya dan tidak pula berdasarkan pokok bahasan. Semua anggapan itu benar adanya, memang tidak atas dasar itu semua, susunan al-Qur’an atas dasar apa yang tahu hanya yang membuat al-Qur’an yaitu Allah SWT.

Namun, susunan yang dikatakan tidak beraturan tersebut, bagi yang mengkaji al-Qur’an justru akan menjumpai kemudahan-kemudahan menjadikan al-Qur’an sebagai tuntunan hidup, coba saja simak dengan hati yang jujur, ustadz-ustadz yang berdakwa jarang sekali yang membawa al-Qur’an, mereka dengan mudahnya menunjukkan ayat-ayat yang sesuai dengan pokok bahasan. Bila ada orang yang bertanya tentang sebuah masalah, seorang ustadz de-ngan mudahnya menunjukkan dalilnya dari al-Qur’an, inilah rahasia susunan al-Qur’an yang dibilang oleh orang-orang mereka tidak beraturan.

Satu lagi mukjizat dari al-Qur’an yang dibilang tidak beraturan tersebut, berjuta-juta manusia dengan mudahnya menghafal al-Qur-’an, baik tua, muda, laki-laki, perempuan, anak-anak, orang Arab ataupun orang Indonesia, bahkan orang China sekalipun yang mempunyai struktur bahasa sangat berbeda dengan bahasa Arab, bukankah ini mukjizat al-Qur’an yang menurut penilaian manusia tidak beraturan, bukankah yang tidak beraturan akan sulit dihafal ?, tetapi al-Qur’an mudah sekali dihafal, itu artinya al-Qur’an sangat beraturan susunannya, hanya manusialah yang tidak mempunyai ilmu mengetahui keteraturan al-Qur’an.

Tetapi pertanyaan bisa kita kembalikan kepada orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen, mengapa tidak seorangpun dari mereka yang hafal kitab mereka yang mereka aku-aku disusun secara beraturan ?

Tentu setiap orang bila tanya mana yang lebih mudah dihafalkan, apakah kalimat yang disusun secara beraturan atau kalimat yang disusun acak tidak beraturan, tentu setiap orang akan menjawab tentu akan mudah meng-hafal kalimat yang disusun beraturan, kalau memang jawabannya demikian berarti al-Qur’an telah disusun dengan beraturan, terbukti al-Qur’an telah dihafal oleh jutaan manusia dari dulu hingga sekarang, dari Arab sampai ke China. Tetapi kita tidak mendapati seorangpun yang hafal Bible dari dulu hingga sekarang dari Israel hingga Indonesia.

Satu lagi bukti, bahwa keunikan al-Qur’an adalah sebuah mukjizat, apakah ada orang yang berhasil memalsukan al-Qur’an, padahal kalau al-Qur’an susunannya dibilang tidak beraturan, tentunya orang akan lebih mudah menyisipkan satu kata ke dalam al-Qur’an, tetapi ternyata semua tidak ada yang berhasil, baik orang-orang Orientalis maupun orang-orang Indonesia seperti yang pernah terjadi di Padang dan di Jogja.


BUMI SEBAGAI ANALOGI
Bila kita cermati bumi yang kita tempati ini, di mana-mana ada gunung, laut, daratan, hutan, danau, emas, batu-bara, mangga, apel, jeruk, durian dan lain sebagainya.

Kalau hukum keteraturan seperti yang diinginkan oleh orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen, maka susunan gunung, daratan, lautan, danau, buah-buahan, hewan yang ada di bumi dapat dikatakan semrawut tidak terkelompokkan.

Padahal susunan bumi yang seperti itulah yang menjadikan kehidupan di bumi ini harmonis dan seimbang baik secara geografis maupun secara ekosistem.

Bisa anda bayangkan andaikata bumi ini diciptakan dengan susunan menurut otaknya orang-orang Orientalis di mana gunung-gunung ditempatkan di satu tempat, lautan mengumpul di tempat yang lainnya, daratan ditempat yang lain lagi, maka bumi ini akan berhenti berputar karena kehilangan keseimbangannya. Bukankah ketidakteraturan susunan gunung-gunung, lautan, daratan, lembah itulah yang justru menjadikan bumi berputar?.

Bukankah adanya buah-buahan, hewan, ikan dan lain sebagainya diseluruh belahan bumi ini menjadikan kehidupan dunia ini seimbang dan harmonis, bisa anda bayangkan andaikan di Indonesia ini tumbuh buah durian saja, di Thailan tumbuh beras saja, di Australia tumbuh gandum saja, di Amerika yang ada batu bara saja tidak ada hewan, buah-buahan dan air, maka tidak ada lagi keseimbangan dalam kehidupan di bumi ini.

Seperti yang pernah terjadi pada kaumnya nabi Musa as, di mana mereka tidak bisa tahan dengan satu makanan saja :

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata:"Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Rabbmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merah-nya"……. QS. 2:61

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengi-saran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. QS. 2:164

Begitulah Allah SWT menciptakan bumi yang harmonis yang tumbuh buah-buahan dan menyebarkan bermacam-macam hewan di seluruh belahan bumi ini sehingga tercipta keharmonisan dan keseimbangan.

Seperti itu juga al-Qur’an disusun, ada kisah nabi Adam pada surat Ali Imran, Al-Mai-dah, al-A’raaf dan seterusnya, begitu juga tentang ayat-ayat aklaq, akidah, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya menyebar di beberapa surat. Hanya Allah SWT yang mengetahui secara persi letak keteraturan dan keharmonisan al-Qur’an.

Pada halaman empat terdapat dua contoh penempatan ayat yang sepintas nampak tidak teratur tetapi setelah dikaji justru penempatan tersebut sangat mengagumkan.


CONTOH-CONTOH RAHASIA PENEMPATAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN
Mari kita ambil satu contoh ayat dan penempatannya :

Kitab (al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, QS.2:2

Allah SWT menegaskan pada awal-awal al-Qur-’an dengan menyebut bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya, padahal Allah SWT bisa saja menyebutkan al-Qur’an sebagai kitab yang Agung, Mulya dan lain sebagainya pada awal-awal al-Qur’an.

Hal ini sebagai jaminan dari Allah dan jaminan harus diletakkan pertama kali agar orang-orang yang ingin mempelajari kandungan al-Qur’an lebih jauh mempunyai keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kitab yang isinya tidak ada keragu-raguan sedikitpun, jaminan ini diperlukan karena al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang tentunya tidak boleh ada keraguan sedikitpun dalam petunjuk tersebut.

Mari kita ambil lagi susunan ayat yang oleh orang-orang Orientalis dan orang-orang Kristen dibilang tidak beraturan :
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sem-pat kamu menyembelihnya, dan (diharam-kan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (di-haramkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah ke-fasikan.

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.

Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa,sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. 5:3


Wahyu-wahyu tersebut tersusun dalam satu ayat, namun wahyu-wahyu tersebut tidak turun dalam waktu yang bersamaan, paragraf ketiga adalah wahyu yang turun terakhir, sementara paragrap pertama, kedua dan ke empat turun jauh sebelumnya.

Menurut orang-orang Orintalis dan orang-orang Kristen susunan tersebut amburadul, lihat saja dari paragraf pertama yang bicara soal halal haram langsung loncat ke masalah tidak boleh takut kepada orang-orang kafir pada paragraf kedua, lalu disusul tentang kesempurnaan agama dan nikmat lalu loncat ke masalah makanan.

Sepintas sepertinya benar tuduhan mereka tentang ketidak-teraturan susunan al-Qur’an, tetapi justru susunan tersebut sangat teratur dan harmonis, lihat keteraturan ayat tersebut berikut ini :

Bahwa nabi Muhammad saw diutus untuk memperbaiki aklaq manusia di mana mereka saat itu salah satunya adalah terbiasa memakan bangkai, mence-kik hewan untuk dimakan supaya nikmat karena ada darahnya, mengundi nasib, seperti paragrap pertama.

Terhadap misi Rasulullah tersebut orang-orang kafir berusaha menghalang-halangi, lalu Allah memberikan kemenangan atas Rasulullah sehingga orang-orang kafir berputus asa untuk menghalangi misi Rasulullah tersebut, seperti paragraf kedua.

Atas kemenangan tersebut Allah SWT menurunkan wahyu -wahyu yang terakhir kali turun- bahwa telah sempurna agama dan nikmat yang Allah berikan seperti yang termuat dalam paragraf ketiga,

Kemudian dalam paragraf ke empat di terangkan bila karena syariat Allah SWT (hukum halal-Haram) orang menjadi kelaparan dan memakan yang haram karena terpaksa maka Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.


Bukankah susunan seperti itu adalah susunan seperti gunung-gunung, daratan, lautan, hutan yang menyebar di seluruh permukaan bumi, yang terkesan tidak teratur tetapi sejatinya harmonis dan seimbang.

Bukankah susunan ayat tersebut terkesan tidak teratur tetapi sejatinya sangat sempurna dan mengagumkan susunannya sebagai petunjuk hidup ?, seperti itu juga ayat-ayat lainnya di susun pada tempat dan urutan yang sangat tepat.

Semoga tulisan ini dapat menambah keimanan kita akan kemurnian Al-Qur'an. Amin.
diambil dari (al-islahonline)

Rasionalitas Al-Qur’an sebagi Mu’jizat

Rasionalitas Al-Qur’an sebagi Mu’jizat

Professor Bernar berkata Semakin maju zaman, semakin tinggi intelektualitas manusia, manusia berlomba2 meninggalkan agamanya masing2. Ada dua faktor yang menyebabkannya:
1. Agama tidak lagi menjawab kebutuhan manusia dan tidak sesuai dengan zaman. Sehingga lahirlah agama baru yaitu materialisme, sekularisme atau cinta dunia yang berlebihan yang menjadikan manusia takut mati.
2. Mereka menyatakan bahwa “Otakku adalah Tuhanku” karena dengan otak manusia bisa menciptakan ilmu2 baru.

Syarat2 Tuhan:
1. Teori relativitas.
Teori Einstein, terbatas oleh 4 dimensi ruang, waktu, daya dan guna. selama terbatas oleh 4 hal ini adalah alam raya. Maka syarat Tuhan adalah tidak terbatas.
2.Teori non otomatic
Segala sesuatu yang terjdi didunia ini tidak terjadi secara otomatis. Semua pasti ada yang mengendalikan yaitu pencipta alam raya ini.
3. Teori The Most
Syarat Tuhan adalah yang paling, yang Maha.. maka Tuhan hanya satu.
4. Ada super nature power. Adanya kekuatan yang luar biasa contohnya ruh, ruh adalah bion yang hidup sementara jasad adalah bion hidup. Hingga sekarang tidak ada yang mampu mendeteksi bagaimana bentuk ruh itu.

Maka silahkan cari kitab suci yang mengandung 4 unsur ini. Professor Lerd, seorang ahli sukritis dari Rusia. Beliau mencari kebenaran melalui 12 agama, beliau masuk dari satu agama ke agama lain. dan akhirnya beliau berhenti pada agama yang ke 12. Beliau memilih Islam sebagai agama yang ke 12 karena beliau sangat membenci Islam hingga akhirnya beliau sangat mencintai Islam.

Keempat teori diatas terjawab dalam Al-Qur’an.
dalam surat Al-Ikhlas dinyatakan bahwa Allah tidak beranak dan tidak dipernakkan, dan juga Tidak ada satu mahlukpun yang menyerupainya. Juga dalam surah Ar-rahman :25-26 ” Semuanya fana kecuali Allah pengatur alam semesta ini yang kekal” Ini menjawab teori yang pertama. Teori kedua dijawab dengan cerita Nabi Ibrahim AS yang mencari Tuhan. Dalam Surah Al-An’am : 75-79. Ketika beliau melihat bintang, beliau berkata inilah Tuhanku, ternyata bintang itu menjelang subuh menghilang, begitu juga begitu beliau melihat bulan, matahari, semua menghilang. Beliau berkata aku tidak suka dengan Tuhan yang terbatas ini. Makan Nabi Ibrahim berkata “Ya Rabb, seandainya engkau tidak memberi petunjuk kami, niscaya kami akan menjadi mahluk yang sesat” Allah manjawab ” Nabi Ibrahim, wajahkan wajahmupadaku, akulah pencipta langit dan bumi”. Sekarang terkenal sebagai doa iftitah dalam shalat. Teori yang ketiga terjawab dalam surat Al-Ikhlas. “Katakan bahwa Allah itu ahad”. ahad artinya bukan satu tetapi Esa. Al-fatah : 28 “Dialah yang mengutus Rasululah dengan hidayah dan agama yang benar agar ditampakkannya kebenarannya terhadap semua agama dan cukuplah Allah sebagai saksi”. Teori Super Nature Power, Al : Isra’ : 85 ” Hai manusia, aku beri kau ilmu yang sedikit”. erarti betapa lemahnya ilmu manusia maka hanya Allah yyang mengetahi bagaimana bentuknya ruh. Sebagaimana hanya Allah yang mengetahui rahasia mati. Jadi Al-qu’an lah kitab yang menjawab 4 teori diatas. Pegang teguhlah Al-Qur’an, baca, fahami, dan amalkan. Subhanallah..

MENGUAK KEZUHUDAN HASAN AL- BASHRI DAN RABI’AH AL-ADAWIYYAH

A.Pendahuluan
Pada suatu hari di kala Nabi Muhammad SAW. hidup, Umar masuk ke dalam kamar beliau. Didapatinya tidak ada perhiasan, tidak ada perkakas dalam kamar itu, selain dari sebuah bangku yang alasnya terdiri dari jalinan daun kurma. Yang tergantung di dinding hanyalah sebuah guriba tempat air, persediaan untuk berwudhu’ beliau. Maka terharulah Umar melihatnya, sehingga menetes air matanya. Lalu utusan Tuhan menegurnya : “Gerangan sebab apakah engkau terharu dan air matamu menetes, ya Umar ?”.
Umar menjawab : “Bagaimana saya tidakkan terharu, ya Utusan Tuhan ! Hanya begini keadaan yang kudapati dalam kamar Tuan. Tidak ada perkakas, tidak ada kekayaan. Padahal seluruh kunci Masyriq dan Maghrib telah tergenggam di tangan Tuan, kekayaan telah berlimpah-limpah”.
Lalu beliau menjawab : “Aku ini adalah utusan Tuhan, ya Umar! Aku ini bukanlah seorang Kisraa dari Persia, atau seorang kaisar dari Roma. Mereka menuntut dunia, dan aku mencari akhirat!”.
Hadits di atas cukup menyadarkan kita, betapa Islam menjunjung tinggi nilai moral bagi umat manusia. Sikap mental yang sederhana dalam bermateri serta tidak mengikatnya dalam hati, adalah sebuah fenomena mulia yang sangat langka untuk dijumpai di abad modern ini. Sikap hidup semacam itu dalam dunia tasawuf (mistik) disebut zuhud (asketis). Ia sekaligus merupakan maqam (sebuah tingkatan) dalam perjalanan (suluk) kaum sufi menuju Tuhan.
Kezuhudan banyak mewarnai kehidupan umat Islam pada masa awal – masa sahabat, tabi’in dan tabi’ al-tabi’in. Nama-nama semisal Sa’id bin Musayib (w. 94 H.), Malik bin Dinar, Sufyan al-Tsauri, Hasan al-Bashri (21 H. / 641 M.), Rabi’ah al-Adawiyyah (185 H. / 801 M.), adalah produk dari masa ini.
Dari nama-nama tersebut, Hasan al-Bashri dan Rabi’ah al-Adawiyyah oleh ulama-ulama setelahnya, terutama ulama tasawuf, disinyalir sebagai pengembang sekaligus tokoh pertama dan utama ajaran sufi. Sebagaimana ditulis oleh Prof. Dr. HAMKA bahwa Hasanlah orang pertama yang memperbincangkan masalah kebatinan dan kerohanian di masjid Bashrah.
Zuhud merupakan refleksi dari fenomena umat Islam di masanya yang lebih banyak berkecimpung dalam urusan duniawi daripada mengikuti jejak Nabi, sekaligus sebagai potret dari keinginan mereka untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Mereka tidak ingin ada penghalang antara diri mereka dengan Allah. Mereka tidak ingin hatinya terisi selain Allah. Sehingga bagi Rabi’ah, kecintaan pada Rasulullah dan kebencian pada syetan sudah tidak mendapatkan posisinya di hati.
Kezuhudan mereka disandarkan pada dua hal yang berbeda. Hasan al-Bashri melandaskan kezuhudannya pada rasa takut (khauf) pada Allah, takut akan siksa Allah jikalau dia melanggar larangan-Nya dan lain-lain, sehingga melahirkan sikap raja’. Sementara Rabi’ah al-Adawiyyah melandaskan kezuhudannya pada rasa mahabbah, yakni rasa cintanya pada Allah SWT. Karena cintanyalah di shalat, karena cintanyalah dia berpuasa dan seterusnya.

B.Paradigma Zuhud Hasan al-Bashri
1.Biografi Hasan al-Bashri
Hasan al-Bashri (selanjutnya ditulis Hasan) adalah seorang tabi’in yang dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H. / 642 M., dua malam sebelum wafat Umar ibn al-Khattab, dan meninggal pada tahun 110 H. Ayahnya adalah seorang Nasrani keturunan Persia, bernama Yasar. Sedangkan ibunya bernama Khairah. Kelahiran Hasan membawa keberuntungan bagi kedua orang tuanya. Kepandaiannya dalam berkisah dan posisi penting yang dimilikinya, membuat kedua orang tuanya terentas dari status hamba sahaya menjadi merdeka. Konon kemampuannya dalam berkisah itu diwarisi dari sang ibu.
Tahun kelahirannya mengindikasikan bahwa Hasan hidup semasa dengan sahabat besar. Dia sempat bertemu dengan kurang lebih 70 sahabat yang turut menyaksikan perang Badar, dan 300 sahabat yang lain. Beberapa hadits telah ia dengar, terutama dari Ibn Abbas. Dia juga menyaksikan pemberontakan terhadap Utsman bin Affan dan beberapa kejadian politis lain sesudahnya, yang memporakporandakan umat Islam yang terjadi di Madinah. Tidak diketahui kepastian sebabnya, dia sekeluarga pindah ke Bashrah.
Selain dikenal sebagai pendiri zuhud aliran Bashrah, ulama yang juga dikenal dengan nama Abu Sa’id ini, adalah seorang ahli fiqih juga alim dalam ilmu-ilmu agama yang lain. Kebesarannya diakui oleh ulama-ulama semasanya maupun setelahnya.
2.Khauf dan Raja’ sebagai Pangkal Ibadah
Mendengar nama Hasan al-Bashri, terlintas di benak kita sesosok zahid besar. Prediksi itu semakin meyakinkan, manakala kita mendengar pengakuan dari ulama-ulama semasanya maupun setelahnya. Suatu ketika datang seseorang pada Malik ibn Anas, sahabat Nabi yang utama, menanyakan sesuatu. Malik kemudian menyuruh orang tersebut bertanya pada Hasan. Abu Qatadah berkata : “Bergurulah pada syeikh ini, aku sudah saksikan sendiri. Tidak ada seorang tabi’in yang menyerupai sahabat Nabi kecuali dia. Itulah di antara komentar ulama-ulama semasanya.
Sementara komentar ulama-ulama sesudahnya lebih diungkapkan dalam bentuk tulisan yang terdapat dalam karya-karya monumental mereka. Semisal kitab Huliyat al-Auliya’, karya Abu Na’im, kitab Tabaqat al-Kubra karya Imam Sya’rani, Kuwakib Durriyyah karya Almanawi, dan Kutub al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki. Bahkan pendirian hidup Hasan dijadikan paradigma oleh seluruh ahli tasawuf berikutnya.
Dalam prakteknya, kezuhudan Hasan adalah secara fisik dan mental. Dia menjauhkan tangannya dari keinginan untuk memiliki dan menjauhkan hatinya dari mencintai atau mencari materi dunia. Namun demikian, zuhud tidak hanya dapat ditempuh bila seseorang melepaskan atau meninggalkan kehidupan yang nyata ini. Tidak pula dengan meninggalkan kepemilikannya terhadap harta benda, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk social yang tidak bisa lepas dari pergaulan dengan manusia lain, membutuhkan kehadiran mereka, dan tidak bisa lepas dari kebutuhan terhadap materi. Kunci daripada zuhud ada pada tidak adanya cinta pada materi dunia, bukan pada kepemilikannya.
Alkisah, diceritakan bahwa seseorang mendengar tentang seorang laki-laki zuhud yang telah menulis seribu kitab tentang zuhud. Dia bermaksud menemui laki-laki zuhud tersebut. Diapun pergi mencarinya hingga sampai ke tempatnya. Tatkala menjumpainya, dia melihat laki-laki tersebut mempunyai sebuah istana yang sangat megah dan indah. Di dalamnya tersedia para pembantu, berbagai perabotan lux, dan fasilitas yang menyenangkan. Orang itu merasa heran dan bertanya, “Benarkah Anda laki-laki zuhud pengarang kitab zuhud itu, sementara Anda pemilik istana yang megah ini?!”
Laki-laki zuhud itupun berkata, “Benar. Untuk membuktikannya, mari kita keluar bersama-sama ke padang pasir.”
Mereka berduapun keluar menuju padang pasir. Tatkala mereka telah menempuh jarak yang jauh, laki-laki tamu itu sadar tasbihnya tertinggal di istana. Diapun berkata, “Tasbihku tertinggal di istanamu, aku harus kembali untuk mengambilnya.” Pemilik istana itu berkata, “Sesungguhnya aku sama sekali tidak berpikir lagi tentang istanaku yang megah, istriku, dan juga keluargaku. Akan tetapi kamu masih berpikir tentang tasbihmu yang tidak seberapa. Sekarang, siapa yang zuhud, kamu atau aku?!”
Nilai lebih yang diberikan Hasan dalam praktek kezuhudannya adalah bahwa dia meninggalkan sedemikian rupa terhadap materi dunia secara fisik dan mental (lahir batin). Dia tidak mencintai materi dunia juga tidak ingin memilikinya. Sebagai contoh dalam hal makan, dia tidak terikat pada makanan dan minuman, dia mengatakan seandainya menemukan alat yang dapat dipergunakan untuk mencegah makan, pasti akan dilakukan. “Aku senang makan sekali dapat kenyang selamanya, sebagaimana semen yang tahan dalam air selama-lamanya.” Dia juga, menjaga jarak dengan penguasa yang dhalim.
Praktek kezuhudan Hasan yang demikian berangkat dari asumsinya bahwa dunia adalah kecil nilainya dan tidak kekal. Sehingga dia berusaha meninggalkannya dan memilih hal yang besar dan kekal, yaitu akhirat. Selain itu, dunia sarat dengan tipu daya, menggiurkan dan dapat membunuh pemiliknya. Sebagai akibat, dunia dapat menjadi penghalang antara manusia dengan Tuhannya.
Dari asumsi-asumsi tersebut, selain direfleksikan dalam kehidupannya, juga diajarkan, disampaikan dan sekaligus dia mengajak para sahabatnya untuk menjadikannya sebagai paradigma dalam hidup. Sikap ini sekaligus menolak tuduhan bahwa zuhud tidak lebih dari keegoisan dalam beragama.
Dalam pandangan Hasan, zuhud dibedakan menjadi dua. Pertama, zuhud terhadap barang-barang yang haram. Kedua, zuhud terhadap barang-barang yang halal. Sebagaimana ucapannya yang diriwayatkan oleh Abd al-Hakim Hasan : “Aku pernah menjumpai suatu kaum yang lebih zuhud terhadap barang yang halal daripada kamu, dari barang yang haram”. Zuhud yang kedua ini lebih tinggi tingkatannya dari zuhud yang pertama. Inilah zuhud yang ditempuhnya.
Kezuhudan Hasan membawanya pada sikap ekstrimisme. Menurutnya seseorang tidak sampai ke tingkat shiddiqin, sehingga dia meninggalkan istrinya bagaikan janda dan anak-anaknya bagaikan anak yatim, dan bertempat tinggal di kandang anjing.
Praktek zuhud seperti ini kurang relevan untuk diterapkan di era modern seperti sekarang, akan tetapi kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya. Di satu sisi, sikap ini terpengaruh oleh faham pesimistis, dan di sisi lain sikap ini disebabkan oleh latar belakang sejarah yang tidak menggembirakan dan faktor-faktor social lainnya yang menimpa umat Islam selama lebih dari empat abad terakhir.
Kezuhudan Hasan lebih disandarkan pada rasa takut (khauf) dan pengharapan (raja’). Rasa khauf menyebabkan dirinya selalu menangis meratapi diri dan kaumnya. Sepanjang hidupnya dia dirundung kesusahan dan ketakutan seakan-akan neraka tidak diciptakan kecuali untuknya. Bila duduk bagaikan tawanan perang, bila berbicara seakan-akan dia akan dimasukkan ke dalam api neraka. Sementara pada apa atau siapa dia takut, adalah hal yang tidak disepakati. Dr. Muhammad Mustafa Helmi, guru besar Filsafat Islam pada Fuad I University, misalnya, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr. HAMKA mengatakan bahwa rasa takut yang menjadi sandaran Hasan memanglah takut akan siksa Allah dan neraka. Sementara Prof. Dr. HAMKA mengatakan, sebagai orang yang berjiwa besar, Hasan merasakan adanya kekurangan dan kelalaian pada dirinya. Sebagaimana sabda Nabi: “Orang yang beriman mengenang dosanya, laksana orang yang duduk di bawah sebuah gunung yang besar, senantiasa merasa takut gunung itu akan menimpa dirinya. Sehingga rasa takut yang menjadi sandaran Hasan bukanlah takut pada neraka atau siksa, tetapi takut pada Allah semata. Dengan rasa takut seperti ini seseorang bisa saja berkata biarlah masuk neraka daripada kena murka.
C.Paradigma Zuhud Rabi’ah al-Adawiyyah
1.Biografi Rabi’ah al-Adawiyyah
Nama lengkapnya adalah Ummul Khair binti Ismail al-Adawiyyah al-Bashriyyah al-Qaisiyyah (selanjutnya ditulis Rabi’ah), seorang zahidah terkemuka sekaligus sufi terkenal dalam sejarah Islam pada abad II H. dia dilahirkan pada tahun 95 H. di Basrah, di saat kota ini mengalami kemajuan ilmu pengetahuan dan glamouritas dunia, di tengah-tengah keluarga yang miskin dari segi kebendaan, namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.
Sebagai hamba yang bertaqwa, ayah Rabi’ah terhindar dari kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berkiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Qur'an semata-mata. Hasilnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Qur'an sehingga berjaya menghafal kandungan al-Qur'an. Sejak kecil Rabi’ah berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam.
Di saat Rabi’ah memasuki usia dewasa, ayah dan ibunya meninggal dunia. Hal itu menyebabkan dia dan saudara-saudaranya pergi berpencar untuk mencari penghidupannya sendiri-sendiri. Dalam berpencaran tersebut, Rabi’ah pergi ke kota Basrah. Di tengah-tengah perjalanannya, gadis keempat dari empat bersaudara ini ditangkap oleh seorang penjahat untuk kemudian dijual kepada ‘Atik’ dengan harga enam dirham untuk dijadikan sebagai hamba sahaya. Oleh majikannya dia diberi pekerjaan yang cukup berat.
Meski hidup dengan kemiskinan dan kesederhanaan, namun ketabahan dan kesabaran “luar biasa” Rabi’ah tidak menggoyahkan kesolehan dan kezuhudannya. Bagi gadis yang memiliki suara merdu dan paras cantik ini, penderitaan demi penderitaan yang dialaminya justru membuatnya lebih mendekatkan diri pada Allah SWT., sehingga dengan kedekatan, ketulusan dan rintihannya, dia dibebaskan oleh majikannya.
“Rabi’ah, aku memberikan kebebasan padamu. Tapi jika kamu mau, kamupun boleh tinggal di sini. Kami semua akan menyediakan segala keperluanmu.” Begitu majikannya berkata. Namun, Rabi’ah segera bangkit dan mengucapkan “Selamat Tinggal” kepada majikannya. Iapun lantas pergi, dan sejak itu Rabi’ah menjadi orang yang merdeka.
Dalam suasana kemerdekaannya inilah, Rabi’ah kemudia menjalani sisa-sisa hidupnya dengan ibadat dan perenungan hakikat hidup, hingga akhirnya ia menemukan puncak mahabbah (cinta) Ilahiy sampai ia meninggal, pada tahun 185 H. / 801 M. di Basrah.
2.Mahabbah sebagai Kunci bagi Semua Ibadah
Sebelum mengurai lebih dalam mengenai paradigma mahabbah dalam kezuhudan Rabi’ah, perlu ditinjau lebih dahulu kata ‘mahabbah’ dalam perspektif kebahasaan. Secara etimologi, kata mahabbah sering diterjemahkan dengan istilah “cinta”. Dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah, kata mahabbah memiliki tiga pengertian dasar. Pertama, kesenantiasaan dan ketetapan, kedua, cinta terhadap sesuatu, dan ketiga, berarti sifat berkecukupan.
Pengertian dasar semantik di atas memberi arti bahwa mahabbah merupakan suatu wujud ketetapan hati yang tidak akan mau berpisah (al-luzm) dengan sesuatu yang dicinta, dan sesuatu yang dicinta itu sudah cukup (bagi seseorang) sehingga ia tidak akan mungkin mencintai yang lainnya. Oleh karena itu, mahabbah, oleh para sufi sering juga diartikan sebagai bentuk “penyerahan diri kepada yang dicinta, dan mengosongkan hati dari segala-galanya, kecuali dari ‘diri yang dicinta’”.
Mahabbah inilah yang menjadi paradigma kezuhudan Rabi’ah, yang dibangun dengan menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah. Selanjutnya paradigma mahabbah dapat menggeser paradigma yang telah dibangun oleh Hasan al-Bashri atas dasar khauf dan raja’. Mahabbah lebih tinggi untuk dijadikan landasan ibadah daripada khauf dan raja’. Cinta yang suci murni lebih tinggi daripada rasa takut dan pengharapan, karena ia tidak mengharapkan apa-apa. “Ya Ilahi!”, begitu seru Rabi’ah kepada Tuhannya, “Jika aku menyembah-Mu karena takut pada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu karena tamak kepada surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu”.
Ketika Rabi’ah ditanya oleh seseorang : “Bagaimana engkau berhasil mencapai kedudukan yang amat tinggi dalam bidang kerohanian?” Ia menjawab : “Aku selalu mengucapkan: ‘Ya Allah, aku berlindung pada Engkau dari hal-hal yang memalingkan aku dari Engkau dan dari setiap hambatan yang akan menghalangi Engkau dari aku’”. Inilah hakikat hidup yang selama ini dicarinya. Ibadah kepada Allah dan selalu ingat hanya kepada Allah.
Kedalaman cinta Rabi’ah, di satu sisi, membawanya ke dalam faham fatalisme. Ini terlihat ketika dia jatuh sakit, tidak mau berdo’a dan tidak mau dido’akan, karena semuanya adalah kehendak kekasihnya, Tuhan. Di sisi lain, cintanya yang membara menjadikan dia membujang selama-lamanya. Dia merasa bahwa dirinya adalah milik Tuhan sehingga barangsiapa yang menginginkannya mesti meminta ijin pada Tuhan. Dunia adalah hijab antara dirinya dengan Tuhan. Dia mencintai-Nya dan membenci dunia adalah untuk menghilangkan hijab tersebut, sehingga dia mencapai ma’rifat.
Kecintaan Rabi’ah pada Tuhannya juga terefleksi pada beberapa bait syairnya berikut:
Aku cinta pada-Mu dua macam cinta; cinta rindu
dan cinta, karena Engkau berhak menerima cintaku
Adapun cinta, karena rindu,
Hanya Engkau yang aku kenang tiada lain
Adapun cinta, karena Engkau berhak menerimanya
Agar Engkau bukakan hijab, supaya aku dapat melihat Engkau
Pujian atas kedua perkara itu bukanlah bagiku
Pujian atas kedua perkara itu adalah bagi-Mu sendiri
Terhadap syair tersebut, Al-Ghazali mengatakan barangkali yang dimaksud dengan cinta kerinduan adalah cinta akan Allah, karena ihsan dan nikmat-Nya atas dirinya, karena Allah telah menganugerahinya hidup, sehingga dia dapat menyebut nama-Nya (Jalal), yang kian hari kian terbuka baginya. Maka itulah cinta yang setinggi-tingginya (kamal). Dan cinta yang timbul kepada Tuhan karena merenungi keindahan-Nya (Jamal al-Rububiyyah), itulah yang pernah disabdakan Rasulullah SAW. dalam sebuah hadits qudsi : “Aku sediakan bagi hamba-Ku yang shalih mata yang belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah terlintas di hati seorang manusiapun”.
Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh karena itu dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keridhaan Allah. Rabi’ah telah mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia senantiasa meletakkan kain kafannya di hadapannya dan senantiasa membentang-bentangkannya setiap hari.
D.Kesimpulan
Zuhud merupakan sikap tidak mengikatkan hati pada materi dunia. Sebagai konsekuensi, bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki materi dunia dan harus meninggalkan kehidupan yang telah nyata di depannya, sebagaimana yang dipraktekkan oleh Hasan al-Bashri dan Rabi’ah al-Adawiyyah, yang selanjutnya disimpulkan oleh sementara orang. Materi dunia dan berinteraksi dengan sesame adalah hal yang manusiawi bagi kehidupan social. Namun kehidupan zuhud tidak menghendaki semua itu menjadi hijab antara manusia dengan Allah.
Paradigma zuhud yang ditawarkan Hasan al-Bashri, khauf dan raja’ dan Rabi’ah al-Adawiyyah, mahabbah, yang mengindikasikan betapa tinggi keimanan mereka dan betapa dekatnya mereka dengan Allah, adalah sikap yang hendaknya diikuti oleh setiap muslim untuk mencapai ridha-Nya sekaligus ma’rifat kepada-Nya. Sungguhpun demikian, praktek zuhud tersebut kurang relevan untuk dipraktekkan dalam alam modern seperti sekarang, karena itu hanya menempatkan umat Islam dalam posisi terbelakang disbanding umat-umat yang lain, yang selanjutnya berimpliksi pada kehancuran Islam itu sendiri. WalLahu a’lamu bishshawab.

FILOLOGI SEBAGAI EDITING TEKS / NASKAH

Keberadaan teks atau naskah sesuai dengan aslinya sepanjang masa adalah suatu keniscayaan. Sebuah karya klasik misalnya, yang ditulis dengan tangan ketika mengalami kerusakan karena termakan zaman sehingga sebagian hurufnya hilang atau mengalami pergeseran makna, jika hendak ditampilkan kembali dalam format baru, maka hendaknya ia ditampilkan sesuai dengan aslinya. Dan ini bukanlah pekerjaan ringan dan gampang yang dapat dilakukan oleh setiap orang.
Kesusastraan Indonesia lama, misalnya, yang merupakan warisan dari zaman kedatangan Islam yang menggunakan bahasa Arab, pada gilirannya disalin oleh para penulis Indonesia dari satu naskah ke naskah yang lain. Dalam proses penyalinan ini, dengan sengaja atau tidak, telah terjadi banyak distorsi, baik berupa pengurangan, penyalinan, maupun penambahan, yang dalam konteks ini terjadi pada hikayat-hikayat, sehingga menjadi terlalu panjang ceritanya. Sebagai implikasi, terjadilah naskah yang bermacam-macam dan berbeda-beda. Perbedaan ini selain pada panjang-pendeknya cerita juga terjadi pada ejaan bahkan makna.
Hal ini terjadi karena penyalinan karya-karya kesusastraan Indonesia dilakukan dengan tidak teliti atau penyalin bertindak secara subyektif. Dengan demikian, penyalinan (editing) teks atau naskah ini hendaknya dilakukan oleh orang yang memiliki kompetensi dan ketelitian yang tinggi. Yang dimaksud kompetensi di sini adalah kemampuan seseorang dalam memahami bahasa dan dalam menangkap maksud yang terkandung di dalam bahasa tersebut. Hal ini dimaksudkan agar ketika dalam sebuah naskah terdapat kata-kata yang menghendaki pembaruan, dia mampu menampilkan kata yang sama sekali tidak berbeda maksud dengan kata yang diperbarui tersebut, atau memberikan penjelasan. Dengan demikian, penguasaan seluk-beluk bahasa dalam proses penyalinan naskah atau teks juga merupakan suatu keniscayaan.
Dalam khazanah keilmuan, pengetahuan tentang seluk-beluk bahasa dalam kajian terhadap naskah / teks kuno dikenal dengan nama filologi. Dengan demikian, dengan kata lain, mengetahui filologi adalah hal esensi dan asasi dalam proses penyalinan. Tulisan ini akan mencoba memberi deskripsi singkat tentang masalah filologi, terutama berkenaan dengan pengertiannya, dan editing teks / naskah. Selanjutnya uraian tentang perbedaan editing teks / naskah tersebut dalam konteks filologi dan di luar konteks filologi.

Senin, 30 Maret 2009

LAGU ANAK TK 2

NAMA-NAMA NABI DAN RASUL
(Lagu Balonku)

Adam Idris Nuh dan Hud
Sholeh Ibrahim dan Luth
Ismail Ishaq Ya'qub
Yusuf Ayyub dan Syu'aib
Harun Musa Ilyas Ilyasa'
Dzulkifli Daud Sulaiman
Yunus Zakariyya Yahya
'Isa dan Nabi Muhammad

LAGU-LAGU ANAK TK

NAMA-NAMA JARI

Ini namanya jari jempol, jempol! 2x
Apa kata jari jempol
Anak TK tidak boleh ngompol

Ini namanya jari tlunjuk, tlunjuk! 2x
Apa kata jari tlunjuk
Anak TK tidak boleh ngantuk

Ini namanya jari tengah, tengah! 2x
Apa kata jari tengah
Anak TK tidak boleh lengah

Ini namanya jari manis, manis! 2x
Apa kata jari manis
Anak TK tidak boleh nangis

Ini namanya jari klingking, klingking! 2x
Apa kata jari klingking
Anak TK tidak boleh kliling