A.Pendahuluan
Pada suatu hari di kala Nabi Muhammad SAW. hidup, Umar masuk ke dalam kamar beliau. Didapatinya tidak ada perhiasan, tidak ada perkakas dalam kamar itu, selain dari sebuah bangku yang alasnya terdiri dari jalinan daun kurma. Yang tergantung di dinding hanyalah sebuah guriba tempat air, persediaan untuk berwudhu’ beliau. Maka terharulah Umar melihatnya, sehingga menetes air matanya. Lalu utusan Tuhan menegurnya : “Gerangan sebab apakah engkau terharu dan air matamu menetes, ya Umar ?”.
Umar menjawab : “Bagaimana saya tidakkan terharu, ya Utusan Tuhan ! Hanya begini keadaan yang kudapati dalam kamar Tuan. Tidak ada perkakas, tidak ada kekayaan. Padahal seluruh kunci Masyriq dan Maghrib telah tergenggam di tangan Tuan, kekayaan telah berlimpah-limpah”.
Lalu beliau menjawab : “Aku ini adalah utusan Tuhan, ya Umar! Aku ini bukanlah seorang Kisraa dari Persia, atau seorang kaisar dari Roma. Mereka menuntut dunia, dan aku mencari akhirat!”.
Hadits di atas cukup menyadarkan kita, betapa Islam menjunjung tinggi nilai moral bagi umat manusia. Sikap mental yang sederhana dalam bermateri serta tidak mengikatnya dalam hati, adalah sebuah fenomena mulia yang sangat langka untuk dijumpai di abad modern ini. Sikap hidup semacam itu dalam dunia tasawuf (mistik) disebut zuhud (asketis). Ia sekaligus merupakan maqam (sebuah tingkatan) dalam perjalanan (suluk) kaum sufi menuju Tuhan.
Kezuhudan banyak mewarnai kehidupan umat Islam pada masa awal – masa sahabat, tabi’in dan tabi’ al-tabi’in. Nama-nama semisal Sa’id bin Musayib (w. 94 H.), Malik bin Dinar, Sufyan al-Tsauri, Hasan al-Bashri (21 H. / 641 M.), Rabi’ah al-Adawiyyah (185 H. / 801 M.), adalah produk dari masa ini.
Dari nama-nama tersebut, Hasan al-Bashri dan Rabi’ah al-Adawiyyah oleh ulama-ulama setelahnya, terutama ulama tasawuf, disinyalir sebagai pengembang sekaligus tokoh pertama dan utama ajaran sufi. Sebagaimana ditulis oleh Prof. Dr. HAMKA bahwa Hasanlah orang pertama yang memperbincangkan masalah kebatinan dan kerohanian di masjid Bashrah.
Zuhud merupakan refleksi dari fenomena umat Islam di masanya yang lebih banyak berkecimpung dalam urusan duniawi daripada mengikuti jejak Nabi, sekaligus sebagai potret dari keinginan mereka untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Mereka tidak ingin ada penghalang antara diri mereka dengan Allah. Mereka tidak ingin hatinya terisi selain Allah. Sehingga bagi Rabi’ah, kecintaan pada Rasulullah dan kebencian pada syetan sudah tidak mendapatkan posisinya di hati.
Kezuhudan mereka disandarkan pada dua hal yang berbeda. Hasan al-Bashri melandaskan kezuhudannya pada rasa takut (khauf) pada Allah, takut akan siksa Allah jikalau dia melanggar larangan-Nya dan lain-lain, sehingga melahirkan sikap raja’. Sementara Rabi’ah al-Adawiyyah melandaskan kezuhudannya pada rasa mahabbah, yakni rasa cintanya pada Allah SWT. Karena cintanyalah di shalat, karena cintanyalah dia berpuasa dan seterusnya.
B.Paradigma Zuhud Hasan al-Bashri
1.Biografi Hasan al-Bashri
Hasan al-Bashri (selanjutnya ditulis Hasan) adalah seorang tabi’in yang dilahirkan di Madinah pada tahun 21 H. / 642 M., dua malam sebelum wafat Umar ibn al-Khattab, dan meninggal pada tahun 110 H. Ayahnya adalah seorang Nasrani keturunan Persia, bernama Yasar. Sedangkan ibunya bernama Khairah. Kelahiran Hasan membawa keberuntungan bagi kedua orang tuanya. Kepandaiannya dalam berkisah dan posisi penting yang dimilikinya, membuat kedua orang tuanya terentas dari status hamba sahaya menjadi merdeka. Konon kemampuannya dalam berkisah itu diwarisi dari sang ibu.
Tahun kelahirannya mengindikasikan bahwa Hasan hidup semasa dengan sahabat besar. Dia sempat bertemu dengan kurang lebih 70 sahabat yang turut menyaksikan perang Badar, dan 300 sahabat yang lain. Beberapa hadits telah ia dengar, terutama dari Ibn Abbas. Dia juga menyaksikan pemberontakan terhadap Utsman bin Affan dan beberapa kejadian politis lain sesudahnya, yang memporakporandakan umat Islam yang terjadi di Madinah. Tidak diketahui kepastian sebabnya, dia sekeluarga pindah ke Bashrah.
Selain dikenal sebagai pendiri zuhud aliran Bashrah, ulama yang juga dikenal dengan nama Abu Sa’id ini, adalah seorang ahli fiqih juga alim dalam ilmu-ilmu agama yang lain. Kebesarannya diakui oleh ulama-ulama semasanya maupun setelahnya.
2.Khauf dan Raja’ sebagai Pangkal Ibadah
Mendengar nama Hasan al-Bashri, terlintas di benak kita sesosok zahid besar. Prediksi itu semakin meyakinkan, manakala kita mendengar pengakuan dari ulama-ulama semasanya maupun setelahnya. Suatu ketika datang seseorang pada Malik ibn Anas, sahabat Nabi yang utama, menanyakan sesuatu. Malik kemudian menyuruh orang tersebut bertanya pada Hasan. Abu Qatadah berkata : “Bergurulah pada syeikh ini, aku sudah saksikan sendiri. Tidak ada seorang tabi’in yang menyerupai sahabat Nabi kecuali dia. Itulah di antara komentar ulama-ulama semasanya.
Sementara komentar ulama-ulama sesudahnya lebih diungkapkan dalam bentuk tulisan yang terdapat dalam karya-karya monumental mereka. Semisal kitab Huliyat al-Auliya’, karya Abu Na’im, kitab Tabaqat al-Kubra karya Imam Sya’rani, Kuwakib Durriyyah karya Almanawi, dan Kutub al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki. Bahkan pendirian hidup Hasan dijadikan paradigma oleh seluruh ahli tasawuf berikutnya.
Dalam prakteknya, kezuhudan Hasan adalah secara fisik dan mental. Dia menjauhkan tangannya dari keinginan untuk memiliki dan menjauhkan hatinya dari mencintai atau mencari materi dunia. Namun demikian, zuhud tidak hanya dapat ditempuh bila seseorang melepaskan atau meninggalkan kehidupan yang nyata ini. Tidak pula dengan meninggalkan kepemilikannya terhadap harta benda, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk social yang tidak bisa lepas dari pergaulan dengan manusia lain, membutuhkan kehadiran mereka, dan tidak bisa lepas dari kebutuhan terhadap materi. Kunci daripada zuhud ada pada tidak adanya cinta pada materi dunia, bukan pada kepemilikannya.
Alkisah, diceritakan bahwa seseorang mendengar tentang seorang laki-laki zuhud yang telah menulis seribu kitab tentang zuhud. Dia bermaksud menemui laki-laki zuhud tersebut. Diapun pergi mencarinya hingga sampai ke tempatnya. Tatkala menjumpainya, dia melihat laki-laki tersebut mempunyai sebuah istana yang sangat megah dan indah. Di dalamnya tersedia para pembantu, berbagai perabotan lux, dan fasilitas yang menyenangkan. Orang itu merasa heran dan bertanya, “Benarkah Anda laki-laki zuhud pengarang kitab zuhud itu, sementara Anda pemilik istana yang megah ini?!”
Laki-laki zuhud itupun berkata, “Benar. Untuk membuktikannya, mari kita keluar bersama-sama ke padang pasir.”
Mereka berduapun keluar menuju padang pasir. Tatkala mereka telah menempuh jarak yang jauh, laki-laki tamu itu sadar tasbihnya tertinggal di istana. Diapun berkata, “Tasbihku tertinggal di istanamu, aku harus kembali untuk mengambilnya.” Pemilik istana itu berkata, “Sesungguhnya aku sama sekali tidak berpikir lagi tentang istanaku yang megah, istriku, dan juga keluargaku. Akan tetapi kamu masih berpikir tentang tasbihmu yang tidak seberapa. Sekarang, siapa yang zuhud, kamu atau aku?!”
Nilai lebih yang diberikan Hasan dalam praktek kezuhudannya adalah bahwa dia meninggalkan sedemikian rupa terhadap materi dunia secara fisik dan mental (lahir batin). Dia tidak mencintai materi dunia juga tidak ingin memilikinya. Sebagai contoh dalam hal makan, dia tidak terikat pada makanan dan minuman, dia mengatakan seandainya menemukan alat yang dapat dipergunakan untuk mencegah makan, pasti akan dilakukan. “Aku senang makan sekali dapat kenyang selamanya, sebagaimana semen yang tahan dalam air selama-lamanya.” Dia juga, menjaga jarak dengan penguasa yang dhalim.
Praktek kezuhudan Hasan yang demikian berangkat dari asumsinya bahwa dunia adalah kecil nilainya dan tidak kekal. Sehingga dia berusaha meninggalkannya dan memilih hal yang besar dan kekal, yaitu akhirat. Selain itu, dunia sarat dengan tipu daya, menggiurkan dan dapat membunuh pemiliknya. Sebagai akibat, dunia dapat menjadi penghalang antara manusia dengan Tuhannya.
Dari asumsi-asumsi tersebut, selain direfleksikan dalam kehidupannya, juga diajarkan, disampaikan dan sekaligus dia mengajak para sahabatnya untuk menjadikannya sebagai paradigma dalam hidup. Sikap ini sekaligus menolak tuduhan bahwa zuhud tidak lebih dari keegoisan dalam beragama.
Dalam pandangan Hasan, zuhud dibedakan menjadi dua. Pertama, zuhud terhadap barang-barang yang haram. Kedua, zuhud terhadap barang-barang yang halal. Sebagaimana ucapannya yang diriwayatkan oleh Abd al-Hakim Hasan : “Aku pernah menjumpai suatu kaum yang lebih zuhud terhadap barang yang halal daripada kamu, dari barang yang haram”. Zuhud yang kedua ini lebih tinggi tingkatannya dari zuhud yang pertama. Inilah zuhud yang ditempuhnya.
Kezuhudan Hasan membawanya pada sikap ekstrimisme. Menurutnya seseorang tidak sampai ke tingkat shiddiqin, sehingga dia meninggalkan istrinya bagaikan janda dan anak-anaknya bagaikan anak yatim, dan bertempat tinggal di kandang anjing.
Praktek zuhud seperti ini kurang relevan untuk diterapkan di era modern seperti sekarang, akan tetapi kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya. Di satu sisi, sikap ini terpengaruh oleh faham pesimistis, dan di sisi lain sikap ini disebabkan oleh latar belakang sejarah yang tidak menggembirakan dan faktor-faktor social lainnya yang menimpa umat Islam selama lebih dari empat abad terakhir.
Kezuhudan Hasan lebih disandarkan pada rasa takut (khauf) dan pengharapan (raja’). Rasa khauf menyebabkan dirinya selalu menangis meratapi diri dan kaumnya. Sepanjang hidupnya dia dirundung kesusahan dan ketakutan seakan-akan neraka tidak diciptakan kecuali untuknya. Bila duduk bagaikan tawanan perang, bila berbicara seakan-akan dia akan dimasukkan ke dalam api neraka. Sementara pada apa atau siapa dia takut, adalah hal yang tidak disepakati. Dr. Muhammad Mustafa Helmi, guru besar Filsafat Islam pada Fuad I University, misalnya, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr. HAMKA mengatakan bahwa rasa takut yang menjadi sandaran Hasan memanglah takut akan siksa Allah dan neraka. Sementara Prof. Dr. HAMKA mengatakan, sebagai orang yang berjiwa besar, Hasan merasakan adanya kekurangan dan kelalaian pada dirinya. Sebagaimana sabda Nabi: “Orang yang beriman mengenang dosanya, laksana orang yang duduk di bawah sebuah gunung yang besar, senantiasa merasa takut gunung itu akan menimpa dirinya. Sehingga rasa takut yang menjadi sandaran Hasan bukanlah takut pada neraka atau siksa, tetapi takut pada Allah semata. Dengan rasa takut seperti ini seseorang bisa saja berkata biarlah masuk neraka daripada kena murka.
C.Paradigma Zuhud Rabi’ah al-Adawiyyah
1.Biografi Rabi’ah al-Adawiyyah
Nama lengkapnya adalah Ummul Khair binti Ismail al-Adawiyyah al-Bashriyyah al-Qaisiyyah (selanjutnya ditulis Rabi’ah), seorang zahidah terkemuka sekaligus sufi terkenal dalam sejarah Islam pada abad II H. dia dilahirkan pada tahun 95 H. di Basrah, di saat kota ini mengalami kemajuan ilmu pengetahuan dan glamouritas dunia, di tengah-tengah keluarga yang miskin dari segi kebendaan, namun kaya dengan peribadatan kepada Allah. Ayahnya hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.
Sebagai hamba yang bertaqwa, ayah Rabi’ah terhindar dari kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah. Dia mendidik anak perempuannya menjadi muslimah yang berkiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan al-Qur'an semata-mata. Hasilnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi al-Qur'an sehingga berjaya menghafal kandungan al-Qur'an. Sejak kecil Rabi’ah berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam.
Di saat Rabi’ah memasuki usia dewasa, ayah dan ibunya meninggal dunia. Hal itu menyebabkan dia dan saudara-saudaranya pergi berpencar untuk mencari penghidupannya sendiri-sendiri. Dalam berpencaran tersebut, Rabi’ah pergi ke kota Basrah. Di tengah-tengah perjalanannya, gadis keempat dari empat bersaudara ini ditangkap oleh seorang penjahat untuk kemudian dijual kepada ‘Atik’ dengan harga enam dirham untuk dijadikan sebagai hamba sahaya. Oleh majikannya dia diberi pekerjaan yang cukup berat.
Meski hidup dengan kemiskinan dan kesederhanaan, namun ketabahan dan kesabaran “luar biasa” Rabi’ah tidak menggoyahkan kesolehan dan kezuhudannya. Bagi gadis yang memiliki suara merdu dan paras cantik ini, penderitaan demi penderitaan yang dialaminya justru membuatnya lebih mendekatkan diri pada Allah SWT., sehingga dengan kedekatan, ketulusan dan rintihannya, dia dibebaskan oleh majikannya.
“Rabi’ah, aku memberikan kebebasan padamu. Tapi jika kamu mau, kamupun boleh tinggal di sini. Kami semua akan menyediakan segala keperluanmu.” Begitu majikannya berkata. Namun, Rabi’ah segera bangkit dan mengucapkan “Selamat Tinggal” kepada majikannya. Iapun lantas pergi, dan sejak itu Rabi’ah menjadi orang yang merdeka.
Dalam suasana kemerdekaannya inilah, Rabi’ah kemudia menjalani sisa-sisa hidupnya dengan ibadat dan perenungan hakikat hidup, hingga akhirnya ia menemukan puncak mahabbah (cinta) Ilahiy sampai ia meninggal, pada tahun 185 H. / 801 M. di Basrah.
2.Mahabbah sebagai Kunci bagi Semua Ibadah
Sebelum mengurai lebih dalam mengenai paradigma mahabbah dalam kezuhudan Rabi’ah, perlu ditinjau lebih dahulu kata ‘mahabbah’ dalam perspektif kebahasaan. Secara etimologi, kata mahabbah sering diterjemahkan dengan istilah “cinta”. Dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah, kata mahabbah memiliki tiga pengertian dasar. Pertama, kesenantiasaan dan ketetapan, kedua, cinta terhadap sesuatu, dan ketiga, berarti sifat berkecukupan.
Pengertian dasar semantik di atas memberi arti bahwa mahabbah merupakan suatu wujud ketetapan hati yang tidak akan mau berpisah (al-luzm) dengan sesuatu yang dicinta, dan sesuatu yang dicinta itu sudah cukup (bagi seseorang) sehingga ia tidak akan mungkin mencintai yang lainnya. Oleh karena itu, mahabbah, oleh para sufi sering juga diartikan sebagai bentuk “penyerahan diri kepada yang dicinta, dan mengosongkan hati dari segala-galanya, kecuali dari ‘diri yang dicinta’”.
Mahabbah inilah yang menjadi paradigma kezuhudan Rabi’ah, yang dibangun dengan menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah. Selanjutnya paradigma mahabbah dapat menggeser paradigma yang telah dibangun oleh Hasan al-Bashri atas dasar khauf dan raja’. Mahabbah lebih tinggi untuk dijadikan landasan ibadah daripada khauf dan raja’. Cinta yang suci murni lebih tinggi daripada rasa takut dan pengharapan, karena ia tidak mengharapkan apa-apa. “Ya Ilahi!”, begitu seru Rabi’ah kepada Tuhannya, “Jika aku menyembah-Mu karena takut pada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu karena tamak kepada surga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu karena kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu”.
Ketika Rabi’ah ditanya oleh seseorang : “Bagaimana engkau berhasil mencapai kedudukan yang amat tinggi dalam bidang kerohanian?” Ia menjawab : “Aku selalu mengucapkan: ‘Ya Allah, aku berlindung pada Engkau dari hal-hal yang memalingkan aku dari Engkau dan dari setiap hambatan yang akan menghalangi Engkau dari aku’”. Inilah hakikat hidup yang selama ini dicarinya. Ibadah kepada Allah dan selalu ingat hanya kepada Allah.
Kedalaman cinta Rabi’ah, di satu sisi, membawanya ke dalam faham fatalisme. Ini terlihat ketika dia jatuh sakit, tidak mau berdo’a dan tidak mau dido’akan, karena semuanya adalah kehendak kekasihnya, Tuhan. Di sisi lain, cintanya yang membara menjadikan dia membujang selama-lamanya. Dia merasa bahwa dirinya adalah milik Tuhan sehingga barangsiapa yang menginginkannya mesti meminta ijin pada Tuhan. Dunia adalah hijab antara dirinya dengan Tuhan. Dia mencintai-Nya dan membenci dunia adalah untuk menghilangkan hijab tersebut, sehingga dia mencapai ma’rifat.
Kecintaan Rabi’ah pada Tuhannya juga terefleksi pada beberapa bait syairnya berikut:
Aku cinta pada-Mu dua macam cinta; cinta rindu
dan cinta, karena Engkau berhak menerima cintaku
Adapun cinta, karena rindu,
Hanya Engkau yang aku kenang tiada lain
Adapun cinta, karena Engkau berhak menerimanya
Agar Engkau bukakan hijab, supaya aku dapat melihat Engkau
Pujian atas kedua perkara itu bukanlah bagiku
Pujian atas kedua perkara itu adalah bagi-Mu sendiri
Terhadap syair tersebut, Al-Ghazali mengatakan barangkali yang dimaksud dengan cinta kerinduan adalah cinta akan Allah, karena ihsan dan nikmat-Nya atas dirinya, karena Allah telah menganugerahinya hidup, sehingga dia dapat menyebut nama-Nya (Jalal), yang kian hari kian terbuka baginya. Maka itulah cinta yang setinggi-tingginya (kamal). Dan cinta yang timbul kepada Tuhan karena merenungi keindahan-Nya (Jamal al-Rububiyyah), itulah yang pernah disabdakan Rasulullah SAW. dalam sebuah hadits qudsi : “Aku sediakan bagi hamba-Ku yang shalih mata yang belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah terlintas di hati seorang manusiapun”.
Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah. Oleh karena itu dia terus-menerus mencintai Allah semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keridhaan Allah. Rabi’ah telah mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia senantiasa meletakkan kain kafannya di hadapannya dan senantiasa membentang-bentangkannya setiap hari.
D.Kesimpulan
Zuhud merupakan sikap tidak mengikatkan hati pada materi dunia. Sebagai konsekuensi, bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki materi dunia dan harus meninggalkan kehidupan yang telah nyata di depannya, sebagaimana yang dipraktekkan oleh Hasan al-Bashri dan Rabi’ah al-Adawiyyah, yang selanjutnya disimpulkan oleh sementara orang. Materi dunia dan berinteraksi dengan sesame adalah hal yang manusiawi bagi kehidupan social. Namun kehidupan zuhud tidak menghendaki semua itu menjadi hijab antara manusia dengan Allah.
Paradigma zuhud yang ditawarkan Hasan al-Bashri, khauf dan raja’ dan Rabi’ah al-Adawiyyah, mahabbah, yang mengindikasikan betapa tinggi keimanan mereka dan betapa dekatnya mereka dengan Allah, adalah sikap yang hendaknya diikuti oleh setiap muslim untuk mencapai ridha-Nya sekaligus ma’rifat kepada-Nya. Sungguhpun demikian, praktek zuhud tersebut kurang relevan untuk dipraktekkan dalam alam modern seperti sekarang, karena itu hanya menempatkan umat Islam dalam posisi terbelakang disbanding umat-umat yang lain, yang selanjutnya berimpliksi pada kehancuran Islam itu sendiri. WalLahu a’lamu bishshawab.
Rabu, 01 April 2009
MENGUAK KEZUHUDAN HASAN AL- BASHRI DAN RABI’AH AL-ADAWIYYAH
Label:
Al-Hallaj,
Hasan,
Hasan al-Bashri,
khauf,
mahabbah,
Rabi'ah,
Rabi'ah al-Adawiyyah,
raja',
sufi,
tasawuf,
wahdatul wujud,
zahid,
zuhud
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar