Studi tentang bahasa Arab memang terasa kurang, manakala tidak diikuti dengan studi tentang para ahlinya atau para tokohnya, sebagaimana studi tentang sastra juga memerlukan kajian tentang para tokoh sastra.
Dalam hal ini, tidak sedikit tokoh bahasa Arab yang dapat dijadikan sebagai bahan kajian. Dari Abu al-Aswad al-Dualiy (16 SH. – 69 H.) yang konon disebut sebagai tokoh awal bahasa Arab, hingga Ibrahim Anis sebagai salah seorang tokoh bahasa Arab modern.
Dari sekian tokoh bahasa Arab, penulis tertarik untuk membahas tentang salah seorang tokoh yang selain termasuk dalam kelompok aliran Nahwu Kufah generasi terakhir, juga dapat disebut sebagai tokoh utama dalam bidang Fiqh al-Lughah selain Ibnu Jiniy, yaitu Ibnu Faris (… - 395 H.).
A.Biografi
Nama aslinya adalah Abu al-Husayn Achmad bin Faris bin Zakariyya. Tidak diketahui kapan tahun kelahirannya, sebagaimana tidak diketahui secara pasti daerah tempat kelahirannya. Ada yang mengatakan ia dilahirkan di Qazwin dan tumbuh di Ray. Ada juga yang mengatakan bahwa ia berasal dari Hamadzan lalu berkelana ke Qazwin, kemudian pindah ke Ray untuk mengajar Abu Thalib bin Fakhr al-Dawlah ‘Ali bin Rukn al-Dawlah al-Chasan bin Buwaihi al-Daylamiy.
Ibnu Faris pernah berkelana ke Baghdad untuk mencari hadits, dan menetap di Ray selama sisa hidupnya. Di sini ia memiliki hubungan yang akrab dengan Al-Shachib bin ‘Ubbad yang menjadi muridnya. Tentang gurunya itu Al-Shachib berkata: “Guru kami Abu al-Husayn adalah salah seorang yang bagus karyanya dan aman dari kesalahan”. Dari hubungan ini lahirlah karyanya dalam bidang Fiqh al-Lughah yang diberi nama Al-Shachibiy, dan dalam pendahuluannya Ibnu Faris berkata: “Sesungguhnya kunamai dengan nama ini (Al-Shachibiy), adalah karena ketika aku menulisnya aku menyimpannya di dalam lemari Al-Shachib yang mulia yaitu tempat yang cocok untuk mengumpulkan sesuatu – Allah memanjangkan lapangan ilmu, sastra, kebaikan dan keadilan dengan memanjangkan umurnya – sehingga menjadi bagus dan indah dengan adanya buku tersebut”.
Ibnu Faris tinggal di Ray sampai meninggal pada tahun 395 H., tepatnya di daerah Muhammadiyyah, dikuburkan di sana berhadapan dengan makam hakim ‘Ali bin ‘Abd al-‘Aziz al-Jurjaniy.
B.Sumbangan Pemikirannya
Para ahli sejak dahulu kala sangat memperhatikan tema tentang kemunculan bahasa, hal ini karena bahasa adalah salah satu pendiri hubungan sosial di antara manusia. Yang menarik dari sini adalah bahwa para ahli dan pemikir tidak berselisih pendapat tentang persoalan-persoalan ilmu bahasa seperti halnya mereka berselisih pendapat tentang kemunculan bahasa. Telah banyak pendapat yang muncul mengenai hal ini, salah satu di antaranya adalah aliran Naturalisme Bahasa.
Ibnu Faris adalah termasuk pencetus aliran Naturalisme Bahasa Arab. Ia berpendapat bahwa bahasa Arab itu tawqif atau dengan kata lain bahasa Arab adalah ilham atau wahyu dari Allah SWT. aliran ini menjadikan dalil naqli sebagai dasar pijakannya. Sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah SWT. yang berbunyi:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ اْلأَسْمَآءَ كُلَّهَا ...
Artinya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya … (QS. Al-Baqarah 2: 31)
Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud al-asma’ (nama-nama) di sini adalah nama-nama yang manusia berkenalan dengannya meliputi binatang pada umumnya, bumi, dataran, gunung, dan keledai. Sedangkan Khushayf berpendapat sebagaimana yang diriwayatkannya dari Mujahid bahwa yang diajarkan adalah nama segala sesuatu. ada juga yang berpendapat bahwa yang diajarkan adalah nama-nama malaikat, dan Rabi’ bin Anas adalah salah seorang yang berpendapat sama. Yang lainnya lagi berpendapat bahwa yang diajarkan adalah nama-nama keturunannya (Adam as.) semuanya, dan di antara yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Zayd. Namun, dari sekian penafsiran, Ibnu Faris berpegang pada apa yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas.
Meskipun Ibnu Faris berpendapat bahwa bahasa Arab itu tawqif atau sebagai ilham, bukan berarti bahasa Arab itu datang dalam bentuk satu paket dan dalam waktu yang bersamaan, melainkan Allah mengilhamkan kepada Adam as. sesuai yang dikehendaki-Nya untuk diajarkan dan sesuai pula dengan apa yang diperlukan pada masanya. Kemudian Allah mengajarkan kepada nabi-nabi –setelah Adam as.– yang berasal dari bangsa Arab, seorang demi seorang, apa yang dikehendaki-Nya, sampai akhirnya habis pada Nabi Muhammad SAW., Allah mengajarkannya apa yang belum diberikan kepada seorangpun sebelumnya, sebagai penyempurna atas bahasa sebelumnya.
Sumbangsihnya yang lain dalam bidang bahasa Arab adalah ia merupakan sarjana Arab yang pertama kali mencetuskan istilah Fiqh al-Lughah sebagai bidang baru dalam ilmu bahasa Arab. Karena sebagaimana dalam pendahuluannya untuk bukunya, Al-Shachibiy, Ibnu Faris berkata: “Hadza al-kitab ‘al-Shachibiy’ fi fiqh al-lughah al-‘arabiyyah wa sunan al-‘arab fi kalamiha”. Konon, istilah fiqh al-lughah yang menjadi sub judul dari judul utama buku ini adalah yang pertama kali digunakan khususnya sebagai judul sebuah buku lama.
Dalam bukunya ini pula Ibnu Faris mengungkapkan bahwasanya Ilmu Arab itu memiliki asal dan cabang. Yang dimaksud cabang adalah pengetahuan tentang isim dan sifat, seperti رجل, فرس, طويل, dan قصير. Pengetahuan inilah yang harus dipelajari pertama kali. Sedangkan yang dimaksud asal adalah pembicaraan tentang obyek bahasa, asal-usul dan perkembangannya, serta tentang cara-cara bangsa Arab mengucapkannya. Yang dimaksud dengan ilmu cabang di sini adalah Nahwu dan Sharf, sementara yang dimaksud dengan ilmu asal adalah Fiqh al-Lughah sendiri.
C.Para Guru dan Muridnya
Selain menimba ilmu, terutama Fiqh Syafi’iy, dari ayahnya sendiri yang memang ahli dalam bidang tersebut selain sebagai ahli bahasa dan sastra, Ibnu Faris juga memiliki banyak guru yang lain. Di antaranya adalah Abu Bakr Achmad bin al-Chasan al-Khathib, perawi Tsa’lab. Dari gurunya ini ia mendalami Nahwu Kufah dan kemudian menjadi bagian dari generasi aliran nahwu ini. Guru-guru lainnya yang disebutnya dalam karya-karyanya, antara lain adalah Abu al-Chasan ‘Ali bin Ibrahim bin Salmah al-Qaththan, kepadanya ia belajar Kitab al-‘Ayn karya al-Khalil; Abu al-Chasan ‘Ali bin ‘Ali bin ‘Abd al-‘Aziz, yang darinya Ibnu Faris belajar dua buku karya Abu ‘Ubayd, Gharib al-Chadits dan Mushannaf al-Gharib; Abu ‘Abdillah Achmad bin Thahir al-Munajjim yang sangat dikaguminya. Guru-gurunya yang lain adalah Abu Bakr Muchammad bin Achmad al-Asfihaniy, ‘Ali bin Achmad al-Sawiy dan Abu al-Qasim Sulayman bin Achmad al-Thabraniy.
Sedangkan muridnya selain dua yang telah disebut di atas yaitu Abu Thalib bin Fakhr al-Dawlah ‘Ali bin Rukn al-Dawlah al-Chasan bin Buwaihi al-Daylamiy dan Al-Shachib bin ‘Ubbad, ada Badi’ al-Zaman al-Hamadzaniy, penulis buku terkenal, Maqamat al-Hamadzaniy, sebuah bentuk tulisan prosa baru dalam dunia sastra Arab yang lebih mengandalkan kemampuan dalam mengolah bahasa. Model tulisan ini diduga diilhami dari gurunya, yaitu Ibnu Faris.
D.Karya-karyanya
Salah satu di antara buah karya Ibnu Faris yang paling terkenal adalah karangannya yang berjudul Al-Shachibiy, sebagaimana telah disebutkan di depan. Sedangkan karya-karyanya yang lain ada sekitar 46 karangan, yaitu:
- Abyat al-Istisyhad, - Al-Syiyat wa al-Chula,
- Al-Firaq, - Al-Chammasah al-Muchaddatsah,
- Futya Faqih al-‘Arab, - Gharib I’rab al-Qur'an,
- Ushul al-Fiqh, - Akhlaq al-Nabiy Saw.,
- Al-Afrad, - Al-Itba’ wa al-Muzawajah,
- Al-Amaliy, - Fadl al-Shalah ‘ala al-Nabiy,
- Amtsilah al-Asja’, - Qashash al-Nahar wa Samr al-Layl,
- Al-Intishar li Tsa’lab, - Al-Mujmal fi al-Lughah,
- Al-Nayruz, - Al-Muchashshal fi al-Nachw,
- Al-Lamat, - Machannah al-‘Arib,
- Tamam al-Fashich, - Al-Mudzakkar wa al-Mu`annats,
- Dzamm al-Ghibah, - Dzakha`ir al-Kalimat,
- Al-Tsulatsah, - Muqaddimah fi al-Fara`idl,
- Al-Jawabat, - Muqaddimah fi al-Nachw,
- Al-Chajar, - Tafsiru Asma` al-Nabiy Saw.,
- Chilyat al-Fuqaha`, - Al-Wujuh wa al-Nadha`ir,
- Khudlarah, - Mutakhayyar al-Alfadz,
- Khalq al-Insan, - Dzamm al-Khatha` fi al-Syi’r,
- Darat al-‘Arab, - Jami’u al-Ta`wil fi Tafsir al-Qur'an,
- Sirah al-Nabiy, - Syarch Risalah al-Zuhriy lil ‘Abd al-Malik bin Marwan,
- Al-‘Amm wa al-Khal, - Kifayat al-Muta’allimin fi Ikhtilaf al-Nachwiyyin,
- Maqayis al-Lughah, - Al-Yasykuriyyat, dan
- Ma’khadz al-‘Ilm, - Maqalah “Kalla” wa ma ja`a minha fi Kitab Allah.
Dari sederetan karya-karya tersebut, terlihat bahwa meskipun Ibnu Faris selama ini dikenal sebagai ahli bahasa, namun ternyata ia tidak hanya menyusun buku tentang bahasa, melainkan juga tentang sastra, kamus, biografi, dan juga fiqh. Dari sini tampaklah pula bahwa Ibnu Faris terlibat dalam dunia intelektual pada zamannya secara kuat dan intens. WalLahu a’lam bi al-Shawab.
Rabu, 22 April 2009
STUDI TOKOH BAHASA ARAB (IBNU FARIS)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

whaa kebetulan nih lagi cari tokoh bahasa arab buat tugas saya, thanks ya infonya
BalasHapus